Menjadi Jajaka Selagi Masih Perjaka

Assalamu'alaikum Warahmatullah..

Setiap perjaka belum tentu bisa jadi jajaka. Itu adalah kata-kata yang baru saja saya ciptakan untuk memulai tulisan ini. Istilah jajaka sendiri merupakan bahasa Sunda yang berarti pemuda. Tetapi, jajaka yang saya maksud adalah sebutan bagi Duta Pariwisata Kota Bandung. Setiap tahun, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung menyelenggarakan Pasanggiri Mojang Jajaka (Moka) Kota Bandung, sebuah kompetisi berbau beauty pageant yang tujuannya mencari muda mudi berpotensi untuk menjadi duta wisata kotanya. Teman-teman mungkin akrab dengan kompetisi serupa di Jakarta yang disebut Abang None. Nah, kalau yang saya ikuti ini adalah versi Bandung.


Kegilaan ini, untuk ikut kompetisi berbau beauty pageant, sebenarnya bermula dari keisengan tidak bertanggung jawab. Secara pribadi, saya bisa dibilang sangat bangga menjadi orang Sunda dan warga Bandung. Kebanggaan inilah yang mendorong saya untuk beraksi, bukan membasmi kejahatan, melainkan ingin mempromosikan baik kebudayaan maupun kota yang saya cintai. Pilihan saya untuk menyalurkan kebanggan itu lewat Mojang Jajaka Kota Bandung sendiri sangat dipengaruhi oleh lingkungan saya, terutama di tempat kuliah. Di jurusan tempat saya menimba seember ilmu, HI UI, banyak sekali senior ataupun alumni yang juga berprestasi di ajang beauty pagent. Ada yang di tingkat daerah, provinsi, bahkan nasional. Misalnya saja, Kak Maya Susanti yang menjadi Putri Pariwisata Sumatera Selatan 2012, Kak Nadhira Titalia yang menjadi Top Ten Miss Indonesia 2013, dan ada juga Haekal Muda Ralial, teman seangkatan yang merupakan Top Ten Raka Raki Jawa Timur 2013. Itu beberapa contoh aja karena sebenarnya banyak yang lainnya, terutama di ajang Abang None Jakarta dan Abang Mpok Depok. Jujur, karena merekalah saya tertarik ikut ajang serupa di kota kelahiran saya. 

Niatan ikut Mojang Jajaka itu sebenarnya sudah ada sejak tahun lalu. Tapi sayang sekali, tahun lalu itu acaranya bentrok sama rencana saya ikut konferensi di Jepang. Akhirnya, niat itu ditunda sementara. Barulah awal September, tidak lama setelah pulang dari Eropa, saya iseng-iseng liat timeline twitter untuk cari info tentang Mojang Jajaka 2014. Ternyata, waktu pendaftaran hanya tersisa beberapa hari saja sejak saya tau infonya. Karena syaratnya mudah, saya yang lagi di Depok minta tolong adik untuk mendaftarkan saya dalam kompetisi ini. Sebuah keputusan impulsif yang bisa jadi gak jauh beda kayak orang kesambet. 

Masuklah saya ke babak penyisihan. Tempatnya di Padepokan Seni Mayang Sunda, di Bandung. Tahap ini adalah tahap di mana pesertanya banyak ditanya-tanya sama dewan juri. Anehnya, kita semua yang daftar pada jawab aja tuh pertanyaannya. Gak ada yang neriakin juri sambil bilang, "Kepo, lu!". Oh iya, sebelum interview, ada babak tes tertulis dulu yang susah banget. Pertanyaannya lebih mirip trivia, soalnya pertanyaannya seputar Kota Bandung yang belum tentu semua orang tau. Setelah seharian di sana, agak kaget juga karena akhirnya saya menjadi satu diantara 24 finalis Mojang Jajaka Kota Bandung 2014. Setelah terpilih itu, perasaan saya lebih ke arah dilema daripada senang. Kenapa? Jelas karena saya harus bolak-balik Depok-Bandung untuk ikut rangkaian acaranya. Berarti, bakal ada banyak hal yang harus dikorbankan selama kompetisi. Pernah terpikir untuk mengundurkan diri, tetapi setelah curhat sama Yang Mulia Kanjeng Bunda dan juga mempelajari jadwal kegiatan pra-karantina, saya memilih bertanggung jawab atas keisengan saya daftar kompetisi ini. 

Mojang Jajaka (Moka) Kota Bandung punya pra-karantina selama sebulan sebelum karantina dan malam final. Kegiatannya pada intinya adalah persiapan dan pembekalan para finalis agar kelak menjadi duta wisata yang benar-benar kenal kebudayaan dan kotanya sendiri. Sebelum pra-karantina, kita ada sesi pemotretan untuk keperluan publikasi, kerjasama, dan dokumentasi malam final. Buat saya, ini tuh asing banget. Meskipun punya tampang yang (katanya) di atas rata-rata, saya bukan orang yang pede di depan kamera. Apalagi fotografernya itu semuanya profesional. Untunglah berkat arahan semua yang terlibat, saya gak nangis selama proses pemotretan. Selain pembekalan, hal yang seru dari pra-karantina itu ada banyak kegiatan bareng komunitas-komunitas. Ada acara belajar pakai iket kepala khas orang Sunda, jalan-jalan di Bandung bareng Komunitas Aleut, ngobrol Indonesian Pageant, sampai berinteraksi langsung dengan komunitas seni di Saung Angklung Mang Udjo. Tapi, dari semua kegiatan pra-karantina, latihan koreografi untuk malam final adalah favorit saya. Soalnya bakat gak bisa diam saya bisa tersalurkan lewat gerakan-gerakan yang seru gitu. Apalagi pelatih koreonya, biasa dipanggil Kang Cilok, lucu dan seru banget orangnya. Beliau ini ternyata tim penari Indonesia waktu penutupan Asian Games 2014 di Korea Selatan. Sampai akhirnya selesai, saya tetap gak percaya kalau saya bisa juga menari secara kolosal. Terima kasih pada Mahaguru Kang Cilok.





Gimana foto-foto publikasinya? Kalau kurang kayak model mohon dimaklumi, soalnya memang bukan. Nah, setelah hampir setiap akhir pekan bolak-balik, ada satu penjurian yang bikin deg-degan setengah hidup. Namanya 'Unjuk Kabisa' alias pertunjukkan bakat. Setiap finalis wajib menampilkan pertunjukkan yang untuk memperlihatkan bakatnya dengan waktu masing-masing maksimal 3 menit. Masalahnya di sini adalah kebanyakan finalis itu pada punya bakat-bakat yang luar biasa. Ada yang bisa menari Jaipong atau jenis lainnya, ada yang bisa pencak silat, ada yang suaranya bagus buat nyanyi, pokoknya jago-jago deh. Begitu liat cermin, langsung aja minder. Soalnya kalau masalah kesenian, saya tuh kurang banget. Setelah saya pikir, ini jadi tantangan yang seru juga untuk mencoba hal baru. Karena saya ingat kata-kata seseorang untuk fokus pada kekuatan, bukan kelemahan diri, saya yang (mungkin) punya bakat public speaking memutuskan untuk mencoba story telling (mendongeng) cerita Si Kabayan yang merupakan tokoh jenaka dari Tatar Pasundan. Saya sendiri sebenarnya gak pernah mendongeng. Untungnya saya punya teman di Tangerang yang bisa dibilang menguasai bidang ini. Akhirnya, saya minta diajarin sama teman semasa putih-abu, Alia Rizka. Saking jagonya, Alia ini pernah menang lomba tingkat Asia. Hanya dalam beberapa jam saja, Alia berhasil menurunkan dasar-dasar penting dalam mendongeng yang jadi modal sangat besar untuk saya. Satu hal yang kata Alia penting dari mendongeng, yaitu ekspresinya. Lagi-lagi, saya yang muka dan suaranya datar banget ini harus berusaha mengalahkan diri sendiri. Bermodalkan tekad, akhirnya bisa juga tuh saya mendongeng di depan banyak orang yang sampai ratusan itu. Meskipun bukan penampilan terbaik malam itu, kebanggaan tersendiri buat saya karena berhasil memaksa diri mengasah kemampuan public speaking yang belum pernah saya lakukan. Selain itu juga, ada penjurian catwalk yang sama sulitnya buat saya karena saya gak pernah ikut kegiatan modelling.


Hanya bermodalkan kostum dan microphone untuk tampil mendongeng

Satu bulan tidak terasa berlalu, akhirnya finalis harus masuk karantina. Saat itu, karantina memang sedang menjadi tren, terutama di Afrika karena penyebaran virus Ebola yang mematikan. Untunglah di karantina Mojang Jajaka semuanya sehat. Pada tahap ini, penjurian utama dilakukan. Ada penjurian presentasi individu, closed interview, dan presentasi proyek angkatan. Penjurian paling susah itu buat saya saat closed interview. Mainnya keroyokan sih. Setiap finalis harus duduk di depan 5 orang juri dan menjawab semua pertanyaan. Tesnya bisa dibilang gak cuma pengetahuan dan wawasan, tetapi juga mental. Banyak pertanyaan yang seharusnya bisa saya jawab tapi akhirnya lupa karena tiba-tiba blank saat ditanya. Hal yang berkesan dari karantina adalah interaksi bersama seluruh finalis lainnya selama 5 hari bersama. Apalagi sehari sebelum malam final, kita menjamu teman-teman duta wisata dari berbagai daerah untuk makan malam dan menikmati pertunjukan angklung di Saung Angklung Mang Udjo. Bisa dibilang itu adalah tugas pertama kita sebagai duta wisata.

Semua yang telah dipersiapkan pada akhirnya berujung di malam final. Acara grand final Pasanggiri Mojang Jajaka merupakan pengumuman hasil kompetisi setelah seluruh penjurian selesai. Selain penampilan koreografi dari para finalis, ada juga sesi fashion show, dan pertanyaan di atas panggung. Pertama-tama, setelah seluruh finalis ditampilkan, diumumkan Top Five Mojang dan Jajaka yang akan diberi pertanyaan oleh dewan juri. Saat pengumuman, saya termasuk yang deg-degan. Wajar lah, saya udah mengorbankan banyak hal, termasuk satu ujian (yang kemudian diberi izin susulan) untuk kompetisi ini. Begitu nama saya disebut, meskipun kepengen banget, muka tetap cool. Di sesi pertanyaan, saya lumayan grogi dan walaupun pertanyaan bisa dijawab dalam bahasa Inggris, rasanya kurang aja. Sesi terakhir di malam final adalah sesi penobatan. Dari lima besar, hanya akan ada tiga gelar utama, yaitu Mojang/Jajaka Wakil II, Mojang/Jajaka Wakil I, dan Mojang/Jajaka Pinilih. Sejujurnya, target saya hanyalah maksimal menjadi Jajaka Wakil I. Saya sadar bahwa kondisi saya yang berkuliah di luar Bandung akan menyulitkan saya dan juga paguyuban jika ada tugas-tugas duta wisata. Begitu pembawa acara mengumumkan Jajaka Wakil II, ternyata nama saya yang dipanggil. Saat itu juga, saya merasa lega karena saya yakin hasil tersebut adalah yang terbaik. Malam itu jadi perayaan sendiri buat saya.

Koreografi Finalis Malam Final Mojang Jajaka Kota Bandung 2014

Fashion Show

Pasangan Mojang Jajaka 

5 Besar Mojang Kota Bandung 2014

5 Besar Jajaka Kota Bandung 2014

Penobatan Mojang Jajaka Kota Bandung 2014

Mojang dan Jajaka Wakil II Kota Bandung 2014

Keluarga Besar 

Korps Pendukung

Korps Pendukung

Teman-teman yang sudah lama tak jumpa

Selfie bareng teman-teman dari SBM ITB

Pengalaman mengikuti Pasanggiri Mojang Jajaka dan kemudian terpilih sebagai Jajaka Wakil II Kota Bandung merupakan suatu hal yang luar biasa. Meskipun lelahnya luar biasa karena harus bolak-balik ke Bandung, setiap canda tawa kita, para finalis, di setiap rangkaian acara menjadi hiburan tersendiri bagi saya. Latihan koreografi, shalat bareng, makan bareng, menginap bareng, semua itu akan menjadi hal yang dirindukan oleh kita semua. Selama kompetisi, saya juga merasakan dukungan luar biasa dari teman-teman, senior, dan tentunya keluarga besar. Hal berharga yang saya dapatkan dari Mojang Jajaka bukanlah gelar, piala, atau hadiah. Lebih besar dari itu semua, saya dapat keluarga baru dari paguyuban, koneksi-konesksi baru, pengalaman baru, dan kompetisi ini telah banyak berhasil memaksa saya keluar dari zona aman saya. Itu yang berharga. 


Paguyuban Mojang Jajaka Kota Bandung

Kompetisi memang sudah selesai, namun tugas sebagai duta wisata baru saja dimulai. Bagi teman-teman yang memang mencintai kota dan daerahnya, duta wisata mungkin bisa jadi saluran bagi teman-teman untuk berkontribusi pada kota dan daerah kalian. Buat yang lain, mungkin bisa juga jadi duta wisata sebelum jadi duta besar kayak saya. Amin. 

Dapet Gelar Jajaka Terbaik dari pasangan sebenarnya

Catatan Perjalanan #1 - Menemukan Keluarga Baru

Selamat malam, para jomblo pembaca!

Biasanya, orang yang habis bepergian jauh bawa oleh-oleh. Kalau saya, mencoba bawa cerita. Cerita perjalanan setahun terakhir yang membawa saya ke Eropa. Iya, kurang lebih sebulan yang lalu, saya bepergian ke Eropa, menghabiskan waktu empat minggu di sana, bertemu teman baru dari seluruh dunia, dan berkeliling ke tujuh kota di enam negara. Sebuah perjalanan luar biasa yang menjadi pengalaman sangat berharga, serta layak disebut sebagai "life changing experience". Perjalanan yang berawal dari sebuah mimpi sederhana untuk melihat dunia di luar sana. 

"Model United Nations (MUN), like love, is easier to experience than to explain." 

Entah kenapa, setiap kali ditanya apa itu MUN, saya selalu butuh waktu lima detik untuk memilih cara terbaik dalam menjelaskannya, meskipun saya sudah berkali-kali mengikuti kegiatan ini. Terlebih lagi kalau yang bertanya adalah orang yang gak begitu paham sama dunia hubungan internasional. Biasanya sih, jawaban saya kurang lebih kayak gini: "MUN itu simulasi sidang PBB, yang mana pesertanya akan merepresentasikan suatu negara dalam mencari solusi bersama untuk isu-isu global. Selama simulasi, setiap peserta akan mencari solusi terbaik dengan tetap berusaha menjaga kepentingan nasionalnya.". Kalau yang bertanya masih bingung dengan jawaban itu, saya akan coba dengan jawaban lain kayak gini: "MUN itu konferensi yang kita, pesertanya, pura-pura jadi diplomat di PBB buat nyari solusi isu-isu global.". Biasanya setelah jawaban kedua itu, gak ada lagi sih yang bingung. Kata-kata "pura-pura jadi diplomat" nampaknya kata-kata yang paling mudah dipahami oleh orang awam. 

Siapa sangka, kegiatan yang dikenalkan senior HI pada tahun pertama kuliah ini, ternyata jadi jalan saya untuk menjejakkan kaki di Benua Biru. Jadi ceritanya, di kampus UI, yang namanya MUN itu sudah berkembang cukup pesat. Melalui Unit Kegiatan Mahasiswa bernama UI MUN Club, minat mahasiswa terhadap kegiatan ini disalurkan. Selain itu, melalui UI MUN Club pula, UI memilih dan mengirimkan delegasinya ke International MUN  semacam World MUN, Harvard National MUN, Asia-Pasific MUN Conference, dan The European International MUN. Dari sekian banyak pilihan itu, The European International MUN atau yang dikenal dengan nama TEIMUN adalah ajang MUN yang paling menarik buat saya. Kenapa? Selain karena Delegasi UI untuk TEIMUN selalu membawa pulang banyak penghargaan setiap tahunnya, tempat dilaksanakannya, yaitu Den Haag, merupakan "The Capital City of Peace and Justice". Apalagi, saya pribadi punya cita-cita ingin sekali berkunjung ke negara yang entah mengapa jadi negara impian saya, yaitu Jerman. Dalam otak saya, mengunjungi Eropa melalui TEIMUN merupakan batu loncatan untuk menuju cita-cita tersebut.

Jangan pikir menjadi delegasi UI itu mudah. Apalagi jadi bagian dari UI TEIMUN Team, delegasi UI yang terkenal dengan tradisi juara dan kekeluargaannya yang kuat. Setiap tahun, alumni UI TEIMUN Team melakukan seleksi anggota baru, yang akan menjadi delegasi UI untuk TEIMUN tahun selanjutnya. Gak tanggung-tanggung, seleksi dibuka untuk seluruh mahasiswa aktif dari seluruh fakultas dan juga seluruh angkatan. Mungkin, bagi UI TEIMUN Team, semakin banyak pendaftar, semakin besar pula kemungkinan terpilihnya delegasi terbaik, apalagi jika prosesnya yang ketat dan kompetitif.

Waktu itu, tepatnya setahun yang lalu, saya baru saja memulai tahun kedua saya di HI UI. Berita kemenangan delegasi UI yang seperti biasa menjadi juara umum TEIMUN semakin terasa gaungnya. Terlebih, salahsatu anggota delegasi yang saat itu meraih penghargaan adalah senior saya sendiri, yaitu Cazadira Fediva a.k.a Kak Azira (kelak jadi pelatih saya) yang mendapatkan penghargaan Best Delegate di konsil General Assembly TEIMUN 2013. Selain itu, ada juga Terry Muthaharri a.k.a Kak Terry, pelatih debat saya untuk NNDC 2012 sekaligus ketua tim seleksi UI TEIMUN Team yang rajin banget mengajak saya untuk ikut seleksinya. Merasa itu panggilan hati, meskipun bukan jomblo, saya akhirnya mendaftarkan diri dalam seleksi UI TEIMUN Team 2014.

ROUND 1 - Seleksi Berkas

Tahap seleksi ini tuh buat saya masih kayak iseng-iseng berhadiah. Syarat seleksinya gampang, hanya harus mengumpulkan curriculum vitae sesuai format yang diberikan dan membuat esai bebas tentang isu atau topik internasional. Jangan tanya esainya dalam bahasa apa, karena sebelum ditanya, saya kasih tahu sekarang kalau esainya itu dalam bahasa Inggris. Kenapa rasanya kayak iseng-iseng berhadiah? Soalnya di fase ini, syaratnya masih gampang. Bikin curriculum vitae, kesulitannya apa sih? Kalau saya paling butuh melamun sedikit untuk mengingat pengalaman organisasi dan pencapaian. Biar kelihatan penuh dan berbobot gitu deh CV-nya. Untuk esai, itu kan mirip-mirip sama tugas kuliah di HI, masalah topiknya, masa sih anak HI gak ikutin berita internasional. Satu hal lagi yang bikin fase ini jadi fase iseng-iseng berhadiah adalah karena kita tahu banyaknya orang yang ikut seleksi dan kita sadar bahwa mungkin yang daftar banyak yang lebih keren berkasnya. Alhasil, perasaan pun jadi nothing to lose karena ya udah sih, masih fase pertama juga, belum sampai repot-repot segala juga.

Pas menjelang pengumuman, bohong sih kalau bilang gak dag-dig-dug. Meskipun sadar diri kalau kemampuan diri belum mumpuni, harapan diterima itu kuat banget. Setelah komat-kamit sambil mengunyah permen karet, ternyata saya lolos fase ini. Dengar-dengar kabar burung, tepatnya dari Kak Terry (bukan burungnya Kak Terry loh, ya), jumlah pendaftar seleksi di fase ini mencapai 90 orang mahasiswa se-UI dari berbagai fakultas dan angkatan. Sedangkan yang diterima, hanya 30 orang.

ROUND 2 - Wawancara

Keep smile! Itu motto saya saat menjalani seleksi tahap kedua ini. Setelah jumlah calon delegasi berkurang menjadi 30 orang, suasana kompetitif mulai terasa. Di fase ini, tugas kita para pendaftar cuma satu. Jual diri. Alasannya, di fase ini, kita ditanya komitmen terhadap tim dan kesiapan diri dari berbagai aspek apabila kita menjadi delegasi. Dengan menjual diri dengan cara baik-baik, itulah satu-satunya cara meyakinkan para alumni UI TEIMUN Team bahwa kita layak dan pantas untuk dipilih. Nah, masalahnya buat saya, kemampuan bahasa Inggris saya masih agak tumpul waktu itu. It was my second time I was interviewed in English. Pertama kalinya adalah waktu wawancara seleksi anggota baru ISAFIS. Kelemahan  utamanya terutama ketika ngomong bahasa Inggris, otak saya masih dalam mode menerjemahkan apa yang akan diucapkan. Jadinya, selalu ada jeda antara mikir dan ngomong. Ditambah lagi karena di fase ini seakan-akan kita telah mendapatkan harapan, suasananya jadi bikin grogi. Untuk itu, saya gunakanlah motto di atas. Di dalam otak cuma ada kata-kata "pokoknya senyum!". Motto ini sebenarnya strategi saya untuk menjual diri. Selain karena dengan senyuman kita bisa membuat kesan pertama yang baik, senyum juga mengurangi rasa grogi dan bisa jadi cara saya mengulur waktu saat otak menerjemahkan jawaban wawancara di otak saya jadi ucapan.

Sebagaimana seluruh manusia di muka bumi, saya tidak suka diberi harapan palsu. Dengan alasan itulah saya merasa sangat galau dalam masa penantian pengumuman fase ini. Gimana nggak, orang yang lolos ke dalam fase ini pasti berpikir bahwa mereka telah satu langkah lebih dekat untuk menjadi delegasi. Jurus saya ketika menunggu pengumuman ini adalah minta doa sama Bunda. Ibarat Bus Antar Kota Antar Provinsi "Do'a Ibu" yang bisa mengantarkan para penumpangnya ke tujuan, doanya Bunda juga biasanya manjur di saat-saat genting dan penting semacam ini. Dan ketika saya dinyatakan lolos seleksi ini, perasaan saya senang bercampur takut. Senang karena tujuannya semakin dekat, dan takut karena saya tahu ini akan menjadi penyesalan jika saya gagal. Dari 30 orang yang berhasil sampai tahap ini, hanya 15 orang yang bisa lanjut ke tahap selanjutnya.

ROUND 3 -  Simulasi

Tahap ini sejujurnya adalah tahap paling serius, menegangkan, merepotkan, dan melegakan di akhirnya. Di fase ini, saya harus benar-benar meluangkan waktu untuk membaca study guide, riset isu dan negara, serta membuat position paper. Hal yang paling menyeramkan dari fase ini adalah karena di daftar nama orang-orang yang lolos ke tahap ini, ada nama-nama senior yang saya kenal dan tahu betul bahwa mereka adalah veteran-veteran MUN atau debat. Rasanya kayak jari kejepit pintu! Sakitnya di sini (sambil nunjuk telunjuk). Perasaannya sama kayak kita mau lomba lari di tingkat RW, eh, taunya Usain Bolt ikutan lombanya. Pupus dong harapan kita menang piala tingkat RW tadi. Tapi bukan pejuang dong namanya kalau menyerah sebelum bertanding. Simulasi pun disiapkan sematang mungkin. Dari mulai baca study guide sampai paham isunya, baca-baca artiket buat riset, sampai menulis position paper sebaik mungkin. Dor! Datanglah waktu simulasi. irama jantung yang biasanya senam poco-poco berubah jadi irama marching band. Simulasi ini ada dua bagian, satu sesi sebelum makan siang dan satu sesi setelah makan. Di sesi pertama, terpana dengan kehebatan para veteran tadi, saya malah keasyikan 'menonton' simulasinya. Barulah menjelang sesi kedua, saya mulai sadar dan mengejar ketertinggalan itu. Di sesi kedua, nggak ada lagi yang tersisa, semua kemampuan dikeluarkan untuk menunjukkan kemampuan yang saya miliki. Setelah simulasi dan sesi foto, rasanya lega banget. Meskipun masih harus menunggu pengumuman, setidaknya semua fase sudah terlewati.

Sesi Foto Seluruh Peserta Simulasi

Gimana pengumannya? Penasaran? Ini agak lucu dan memalukan sih sebenarnya. Jadi tuh, pengumuman UI TEIMUN Team itu dilaksanakan di acara Grand General Assembly punyanya UI MUN Club. Sayangnya, pada waktu yang bersamaan saya harus menghadiri pernikahan sepupu saya di Bandung. Alhasil, saya gak bisa tahu pengumumannya secara langsung. Nah, sebagai pagar bagus (sesuai mukanya, bagus) tugas saya gak terlalu banyak tuh selama resepsi pernikahan. Jadinya saya bisa selalu cek Twitter untuk tahu kabar terbaru dari Depok. Sampai saat itu tiba. Sebuah notifikasi muncul di layar HP mengatakan bahwa akun @aufaahdan mengucapkan selamat pada saya karena terpilih sebagai anggota delegasi UI untuk TEIMUN. Awalnya saya gak percaya, kenapa, karena saya takut itu bercanda. Setelah tanya sana-sini, kepo sana-sini, dapatlah saya link video di bawah ini yang merupakan pengumuman resmi dari panitia seleksinya.


Setelah menonton video pengumuman itu, saya sontak berlari menemui Ayah dan Bunda untuk memberi kabar bahwa saya jadi delegasi UI untuk TEIMUN. Bayangkan ada remaja tanggung lari-lari di resepsi pernikahan sambil ngomong, "Ayah, Bunda, Ilman bakalan ke Eropa!" ke orang tuanya. Adegan itu dilakukan persis kayak orang kampung yang mau ke kota terus teriak-teriak, "Mak, Abdul bakalan ke kota, Mak!". Kira-kira kayak gitu deh.

Kalau kalian cerdas, sebenarnya kalian tahu apa ujung cerita ini karena saya yang baru saja pulang dari Eropa pasti lolos semua tahap selekskinya. Tapi ada satu hal yang kalian tidak sadari dan bahkan baru saya sadari. Bahwa perjalanan saya ini tidak dimulai di Amsterdam ataupun ketika seluruh tim berangkat ke Belanda. Perjalanan ini dimulai dengan proses seleksi yang ternyata sekaligus proses menemukan keluarga baru. Karena proses seleksi inilah yang memberikan saya kesempatan bertemu Tita, Kak Azira, Kak Okky, Mba Nadia, Dinda, Patty, Adeline, Victoria, dan Garlan (yang kemudian mengundurkan diri) sebagai keluarga baru saya. Keluarga  baru bernama UI TEIMUN Team 2014.

Beneran Kayak Foto Keluarga

Tradisi UI TEIMUN Team Makan di Sushi Tei

Mba Nadia - Tori - Okky - Adeline

Ngegosip Saat Latihan

Team Building - Karaoke

Team Building - Belanja Bareng

Latihan di Kafe Karena UI Mati Lampu


Ketika Bunda Sakit

Assalamu'alaikum Warahmatullah..

Sudah lama tidak bisa menulis, atau tepatnya sulit menyempatkan menulis di sela-sela ke-sok-sibuk-an saya di kehidupan kuliah ini. Padahal, semester ini menurut saya cukup santai dengan jadwal yang sangat menyenangkan. Jadwal kuliah hanya empat hari, Senin sampai Kamis, pukul 08.00 - 13.30. Anak SMA aja kayanya lebih sibuk dari saya. Entah kenapa, saya sedih banget semester ini bakal segera berakhir. Soalnya, setahu saya, setelah semester ini kehidupan akan semakin berat. Baiklah, kita cukupkan saja pendahuluannya. Mari masuk ke inti cerita.

Apa yang terpikir kalau mendengar seorang dokter sakit? Iya, dokter yang biasanya membantu orang sakit untuk sembuh, sekarang malahan sakit. Tapi, memang kenyataannya penyakit itu gak pilih-pilih orang. Siapa aja, termasuk Bunda yang seorang dokter sekalipun, bisa tertimpa penyakit. Bunda, seorang dokter spesialis saraf, master kesehatan, konsultan intensive care unit (ICU), didiagnosis memiliki tumor jinak di dalam kepalanya. Kronologisnya dimulai bulan Maret kemarin, saat Bunda akan pergi ke Belgia untuk ikut simposium penyakit saraf internasional. Sebelum berangkat, Bunda merasa pandangannya agak kabur disertai gangguan keseimbangan tubuh. Kemudian, Bunda disarankan untuk cek medis oleh rekan sesama dokter. Awalnya Bunda ragu, tapi kemudian mengikuti saran tersebut. Dari hasil tes, muncul dugaan adanya jaringan tidak normal yang tumbuh di dekat otak dan menekan saraf penglihatan. Setelah pulang dari Belgia, serangkaian tes kemudian dilakukan untuk menindaklanjuti diagnosis sebelumnya. Hasilnya, diagnosis merujuk pada keberadaan tumor yang berbentuk kista (kantung) di bagian kepala depan (frontal). Bagian yang lucu di bagian ini adalah bahwa diagnosis dilakukan bersama oleh Bunda dan dokter lainnya. Soalnya, otak itu kan organ saraf dan masuk spesialisasinya Bunda. Jadi, seakan-akan Bunda sedang mendiagnosa orang lain, padahal objek diagnosanya badan sendiri. 

Bulan April, persiapan operasi dari udah selesai. Bunda memilih operasi di Jakarta, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Dokter spesialis bedah saraf yang menangani Bunda adalah dr. Setyo Widi Nugroho, Sp.BS. Beliau adalah ahli bedah saraf senior sekaligus senior Bunda waktu kuliah di Unpad. Jam terbangnya juga udah banyak. Entah sudah berapa banyak kepala yang beliau bongkar dan tumor yang beliau angkat selama menjadi dokter. Hari Selasa sore, 8 April 2014, Bunda dioperasi. Operasi ini berlangsung cukup lama, kurang lebih tujuh jam dari rencana semula hanya 4 jam. Itu karena sempat terjadi perdarahan dan karena operasi dilakukan dengan alat, bukan dengan kraniotomi yang membuka tulang tengkorak, dokter butuh waktu lama menghentikannya. Hasil operasinya alhamdulillah baik.

-bersambung-

Pendakian Empat Sekawan

Hai!

Ini malam akhir bulan. Waktunya para anak kos yang kehabisan uang berharap fajar segera menyingsing dan angka-angka di rekeningnya kembali berisi. Tapi, itu bukan saya. Kalau saya sih baru aja pulang dari rumah orang-orang tercinta sambil bawa sebagian 'cinta' mereka. Ada yang cintanya merah muda, biru terang, dan juga hijau. Semuanya tersimpan rapi dibalik benda bernama dompet. Hahahaha..

Pembukaan yang aneh sebenarnya. Alasan sebenarnya tulisan ini dibuat adalah target saya untuk selalu update blog minimal sebulan sekali. Makanya, tadi di awal bahas-bahas akhir bulan segala. Gak boleh dibiasakan jadi deadliner ya, adik-adik semua, kecuali memang kepepet. 

Langsung masuk aja ya ke ceritanya. Pernahkan kalian mendengar cerita tentang empat sekawan yang menaklukan dunia? Jawabannya yang pasti bukan tentang Coboy Junior. Pasti tau dong berita keluarnya Bastian dari Cowboy Junior makanya nama mereka ganti jadi CJR.  Nah, kalau kalian cerdas dengan IQ > 139, kalian tau ini cerita pasti tentang yang punya blog. Nggak naklukin dunia juga, sih. Cuma Gunung Tangkuban Perahu di utara Kota Bandung.

Begini ceritanya...

Empat mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia, sebut saja UI, berencana berlibur ke Bandung. Selain ingin menikmati suasana kota yang sejuk dan mencicipi kulinernya, mereka juga ingin mendaki gunung yang halal, bukan gunung yang bukan-bukan. Mereka adalah...

Calfin Murrin
NPM : 120xxxxxxx

Perutnya tambun, kalau gak mau dibilang gendut. Wajahnya imut, dengan senyum menawan yang seakan-akan ditempel di sana pakai super glue. Matanya sipit, melengkapi karakter oriental khas keturunan Tionghoa. Murrin adalah mahasiswa asal Jambi yang murah senyum, tapi kata-katanya seringkali lebih pedas dari sambal di kantin fakultas. Tipe orang yang blak-blakan dan berani menuturkan kejujuran. 

Murrin ini orang yang bertanggung jawab membuat pendakian ini terjadi. Dia orang yang pertama mengusulkan mendaki gunung selagi berlibur di Bandung. Dengan bekal lari pagi dua kali seminggu, Murrin yakin dia kuat mencapai puncak kejayaan. Selama mendaki, Murrin ini tipe 'lambat asal selamat'. Meskipun kebanyakan di belakang, gak pernah ada keluhan selama perjalanan.

Penampakan Murrin

Herlizar Rachman
NPM : 120xxxxxxx

Tingginya hampir dua meter. Berkulit gelap dengan badan tegap berisi. Kalau bicara sama berwibawanya dengan dosen. Biasanya dipanggil Icang sama teman-temannya. Sama keluarganya juga. Kadang sama dosen juga sih. Pokoknya panggilannya Icang. Lahir dan besar di Nganjuk, Icang lebih dulu jatuh cinta sama kereta daripada perempuan. Segala sesuatu yang berhubungan sama perkereta-apian tanah air pokoknya Icang udah khatam. Boleh dites deh kalau mau.

Biarpun bermuka garang, Icang ini penyayang dan orangnya baik bangetz. Pake Z. Minta tolong apapun pasti dibantu sama Icang. Kalau Anda sedang beruntung, Icang suka mentraktir makanan. Itu juga khusus buat yang kenal sih. Kemarin waktu mendaki, awalnya Icang diragukan. Tapi darah militer keluarga Icang ternyata terbukti lewat ketangguhannya selama pendakian. Bisa dibilang orang yang kemarin paling besar tantangannya itu Icang berhubung kalau gak salah akhir-akhir ini Icang kurang olahraga.

Ini Icang

Claudio Faldo Mancini
NPM: 120xxxxxxx

Mukanya kalem banget. Bicara seperlunya. Sekalinya bicara pasti ngena gitu. Banyak juga tau hal-hal yang jarang diketahui orang lain. Gak heran banyak mahasiswi-mahasiswi berebut pengen kenal sama orang yang biasa dipanggil Col ini. Menurut pengakuan Col, butuh tidur selama 8 - 9 jam untuk menjaga karisma dia. Kalau dilanggar, akibatnya fatal. Bisa-bisa mengantuk selama kuliah.

Col ini kalau di film How To Train Your Dragon masuk kategori Night Fury alias misterius. Tapi yang pasti, Col udah pernah mendaki banyak gunung. Gak heran selama pendakian kemarin sering menjadi pemimpin rombongan. Bahkan, berkat instingnya yang kuat, kita berhasil mencapai puncak. 

Col Lagi Istirahat

Ilman Dzikri
NPM: 120xxxxxxx

---------- SENSOR ----------
---------- DEMI NETRALITAS TULISAN ----------

Bukan Promosi Air Pegunungan
Setelah kenal semua tokoh yang bakal muncul dalam ceritanya, kita langsung simak aja petualangan mereka menaklukkan Gunung Tangkuban Perahu.

Babak I : Menuju Kaki Gunung

Sebelum memulai pendakian, kita yang menuju Lembang menggunakan angkutan kota harus turun di Jayagiri. Di sini kebetulan ada dua mini market yang selalu berdampingan (if you know what I mean) tempat kita beli perbekalan berupa air mineral dan roti. Selain beli perbekalan buat kita, Icang juga beli lem buat sepatunya yang sejak berangkat sudah megap-megap minta jatah. Setelah siap, mulailah perjalanan kita melewati pemukiman warga dengan jalanan aspal yang mulai menanjak. Jalur ini bisa dibilang tidak punya basa basi. Dari awal langsung penuh tanjakan terjal yang tidak memberi kesempatan untuk kaki melakukan pemanasan. Untungnya, perjalanan sampai kaki gunung memiliki pemandangan indah di sekitarnya sehingga semuanya tampak menikmati perjalanan ini. Kita juga sesekali istirahat sambil menikmati pemandangan tersebut. Senyum terlihat mewarnai wajah kami semua saat itu. 

Persiapan Sebelum Perjalanan

Mulai Melangkah

'Menunggu'

Semangat!

Berpose Dulu Ah..

Masuk Hutan Pinus

Bisa Lihat Boscha Dari Atas

Istirahat Dulu, Bro!

Sampai Kaki Gunung

Babak II : Tersesat

Selesai lewat hutan pinus, kita mulai masuk hutan yang juga merupakan kaki gunung. Perlu diingat, satu-satunya orang yang tau jalan di rombongan itu cuma saya. Meskipun sejak SMP saya sering jalan-jalan ke sana, udah lebih dari dua tahun saya gak pernah ke sana lagi. Kemarin itu sebenarnya agak takut juga sih kalau kita tersesat karena saya lupa jalan. Bahkan sebelum masuk hutan pun kita salah jalan karena saya buru-buru belok masuk hutan padahal itu belokan yang salah. Eh, ternyata yang ditakutkan kejadian juga. Setelah masuk hutan, awalnya kita masih beriman (maksudnya berada di jalan yang benar) karena jalannya masih familiar. Begitu kita ketemu cabang jalan, mulai deh iman kita diserang keraguan. Untungnya, sebelum kita ada rombongan motor trail yang lagi main ke sana juga. Jadinya kita bisa ikutin jejak mereka. Lama kelamaan, karena yakin sama jalur itu motor trail, kita ikutin terus tuh jalur mereka. 

Tapi, kemudian saya yang pernah ke sana sebelumnya mulai gak yakin karena setelah jalan lama gak ada lagi tanda-tanda jalan yang familiar. Karena saya mulai ragu, Col minta kita ikutin jalan lain aja yang memang banyak di sana. Soalnya, menurut Col, selama jalannya ke atas pasti sampai puncak. Setuju sama Col, kita semua masuk ke jalur baru yang sama sekali gak ada yang tau ujungnya di mana. Setelah mendaki kurang lebih setengah jam, jalurnya semakin ekstrem dan kita jadi ragu karena gak ada tanda-tanda jalur itu sering dilewati orang. Dalam keraguan itu, kita ketemu sama rombongan lain yang secara kebetulan adalah kenalan lama saya. Sialnya, rombongan itu turun dan belum sampai ujung jalur yang kita lalui. Semakin yakin lah rombongan kita. Bukan sama jalur pendakiannya, melainkan yakin kalau jangan-jangan kita itu tersesat. Masih mending lah kalau misalnya kita muncul di koran dengan judul "Empat Mahasiswa Tersesat dan Hilang di Gn. Tangkuban Perahu". Tapi kalau yang muncul itu "Tidak Siap Menghadapi UTS, Empat Mahasiswa Lari dan Menghilang di Gunung" kan gak elit banget. Bikin malu almamater pula kalau kayak gitu sih. 

Kemudian kita bersepakat untuk terus ikutin jalur tersebut sampai maksimal tengah hari. Lewat tengah hari, sampai ke puncak atau nggak kita bakal turun lewat jalan yang sama. Setelah itu suasananya jadi agak tegang gimana gitu. Perasaan tegang kalau-kalau kita hilang di hutan, keinginan dan optimisme untuk sampai puncak, lelah yang semakin menjadi karena jalan makin terjal, semuanya jadi satu. Langkah semakin dipercepat. Namun, jalan yang makin sulit dengan kontur terjal itu seringkali membuat kita semakin lelah juga. Karena ada batasan waktu yang kita sepakati, mau gak mau semua dipaksa untuk berusaha lebih keras melawan kelelahannya masing-masing. Saking tegangnya situasi waktu itu, kita bahkan gak sempat foto-foto dan lebih banyak diam selama perjalanan. Selain suara hewan-hewan hutan dan angin, hanya ada suara napas kita yang terengah-engah.

Pertama Masuk Hutan

Mirip Orang Hutan Nggak?

Jalan Orang-Orang yang Lurus

Dicari: Orang Hilang (Sementara)

Babak III : Menuju Puncak 

Puji syukur meskipun kemarin sempat tersesat, kita masih diberikan kesempatan untuk bertaubat (maksudnya kembali ke jalan yang benar) dan ketemu jalan menuju puncak. Tapi tenang aja, di jalan menuju  puncak ini gak ada anggota rombongan kita yang tereliminasi. Gak kaya ajang pencarian bakat yang tiap episodenya para peserta bawa koper siap-siap kalau dipulangkan. Nah, setelah ketemu jalan yang familiar buat saya itu, kita bisa lanjut ke puncak. Gak berapa lama, kita berhasil sampai di puncak gunung yang tingginya 2.076 mdpl itu. Begitu sampai di sana, semua kelelahan sirna berganti keceriaan, bagai langit yang diwarnai pelangi setelah hujan badai. Saat itu angin bertiup dari kawah ke arah puncak. Membawa pergi kabut yang sebelumnya menutupi pemandangan di sana. Bau belerang khas gunung aktif pun melengkapi suasana.

Ternyata, di sana juga ada bapak-bapak rombongan motor trailer yang sebelumnya kita ikutin. Seharusnya kita ikut mereka aja tau kayak gitu. Soalnya, mereka sampai sana lewat jalan yang seharusnya saya ingat.Di puncak sana, kita berbagi perbekalan alias dua bungkus roti yang dibawa dari bawah. Biarpun di bungkusnya tertulis rasa keju dan coklat, tapi rasanya jauh lebih enak dari itu. Maklum, mata dan lidah dimanjakan pada saat yang bersamaan. Jadi efek kenikmatannya terakumulasi gitu deh. Karena gak afdhal kalau momen semacam itu gak diabadikan, kita 'sedikit' mendokumentasikan suasana di sana. Walaupun sebenarnya kita sih yang lebih banyak didokumentasikan. Selesai makan, istirahat, dan puas menikmati pemandangan di atas puncak sana, kita harus mulai turun ke lokasi wisatanya untuk pulang menggunakan kendaraan umum yang banyak berkeliaran di sana. Selain itu, kita juga gak bisa terlalu lama di puncak takutnya hujan turun. Jalanannya makin ekstrem kalau basah.

Ini Nih yang Dicari

Ini Penampakan Saat Cerah

Yang Haus.. Yang Haus.. Yang Haus..

Murrin Si Murah Senyum

Icang Si Dermawan

Col Si Misterius

Ilman Sie. Dokumentasi

Empat Sekawan

Selfie Episode 1

Selfie Episode 2

Selfie Edisi Rame-Rame

Babak IV : Pulang

Bagaikan pertapa, setelah selesai istirahat di puncak kita turun gunung. Turun ke daerah wisata buat mencari kendaraan pulang. Mungkin karena jalannya bebas tanjakan, bagian ini terasa lebih mudah dan tentunya lebih cepat. Tapi harus tetap hati-hati, karena jalurnya persis di pinggiran kawah. Kalau ceroboh bisa-bisa masuk ke kawah, keluarnya di koran dan acara-acara berita. Dari tempat wisata, kita berhasil mencegat angkutan umum. Tenang, kita mencegatnya gak pakai celurit atau golok. Cukup dengan lambaian lembut tangan saya. Selanjutnya kita tinggal duduk manis di dalam angkutan umum sampai Lembang untuk ganti kendaraan menuju Bandung. Sialnya, ternyata di liburan panjang akhir pekan kemarin jalanan penuh banget. Efeknya ya itu, macet di mana-mana. Sebenarnya cuma di satu tempat sih. Jalan Raya Lembang yang merupakan jalan satu-satunya menuju Bandung. Berkah macet ini adalah kita ditraktir makan siang yang kesorean sama Icang. Kita makan mie baso yang cukup lezat di Lembang. Tapi, efeknya kita baru sampai Bandung malam hari dengan kondisi pantat rata gara-gara kelamaan duduk. Hikmahnya, kita belajar sabar. Hhhh..

Itulah cerita liburan kemarin bersama tiga kawan saya yang menyenangkan. Buat kalian yang ingin mengenal temannya lebih baik lagi, naik gunung boleh dicoba. Ada pepatah mengatakan, jika kita ingin mengenal seseorang, kita harus makan bareng, tidur (bermalam) bareng, dan melakukan perjalanan jauh bareng. Dengan begitu, sifat-sifat asli teman kita akan muncul dan kita jadi kenal karakter mereka sebenarnya. Jadi, ditunggu, cerita naik gunung kalian! Dadah.