Showing posts with label kehidupan kadal. Show all posts

Stop Worrying, Start Doing!


Masih tentang khawatir. Satu rasa yang tahun kemarin banyak mengajarkan saya cara menjaga asa. Guru dalam perenungan panjang mencari apa-apa yang boleh dan perlu diputuskan. Dia memang tidak ramah. Namun, pada akhirnya menunjukkan arah.

Jika ada satu kalimat untuk menggambarkan perjalanan saya selama setahun kemarin, kalimat tersebut adalah "Stop Worrying, Start Doing!". Sebuah mantra dari seorang guru yang bahkan tidak pernah bisa diajak bertemu.

Kekhawatiran mengajarkan saya bahwa dia bukanlah milik satu orang belaka. Dia ada di dalam diri setiap hamba. Terutama generasi muda yang terkenal dengan sebutan "millennial" (Generasi Y). Setidaknya itu kata Forbes, Elite Daily, dan Business Insider. Kang Simon Sinek juga ternyata setuju dengan tulisan-tulisan itu.

Kita, saya dan kamu juga banyak orang lainnya, adalah generasi yang identik dengan kekhawatiran. Setuju atau tidak, generasi millennial khawatir akan banyak hal: khawatir tidak cukup baik dalam melakukan sesuatu, khawatir akan apa yang orang lain pikirkan tentang kita, khawatir tertinggal oleh teman sebaya, khawatir tidak bisa mencapai impian pada waktu yang kita inginkan, dan banyak lagi kekhawatiran lainnya. Khawatir memang sama dengan waspada, membuat kita mengantisipasi berbagai kemungkinan sehingga jadi lebih siap. Sayangnya, tidak semua kekhawatiran kita pada kenyataannya perlu. Apalagi kekhawatiran kita (yang berlebihan)  bisa memberi dampak negatif.

Masih cerita yang sama, dunia tempat millennial ini hidup, dunia dengan perkembangan teknologi yang pesat dan berbagai kemudahan sebagai konsekuensinya, pun turut menyiram kekhawatiran dalam benak para millennial. Apa sebab? Perkawinan antara era digital dan era infornasi membuat millennial tahu apa-apa yang (seringkali) tidak perlu kita  tahu. Belum lagi era informasi bikin millennial terpapar lebih banyak informasi. Apa menu makan siang teman kita, ke mana mereka liburan, dengan siapa mereka nongkrong, di mana mereka bekerja, siapa bos mereka, semuanya tidak harus kita tahu. Media sosial membuat kita jadi harus tahu semua itu dan mau tidak mau akan membandingkan diri kita dengan orang lain. Membuat kita merasa "kok mereka gitu aku nggak?" dan ujung-ujungnya khawatir kalau kita tidak cukup baik atau tidak cukup keras dalam mengusahakan sesuatu.

Habis itu, tahu banyak orang sukses juga tidak selalu memotivasi millenial. Apalagi tahu orang itu sukses sejak masih muda. Salah salah, bukan jadi motivasi, mengetahui kesuksesan mereka malah menjadi demotivasi. Bagaimana tidak? Orang-orang yang sukses pada usia belia membuat millenial berpikir "buset, dah! umur segitu aku masih main gundu.". Kalau sudah begitu, ujung-ujungnya kepercayaan diri millenial tergerus habis.

Ada hal lain yang mendukung millenial jadi cenderung lebih banyak khawatir: mie instan. Bukan kebanyakan mecin yang bikin khawatir. Mental instan yang termanifestasi dalam mie itulah sebenarnya penyebab millienial lebih banyak khawatir. Selalu ingin cepat, selalu dapat cepat, membuat millenial berpikir semuanya bisa didapat dengan cepat. Melihat orang sukses, apalagi masih muda, dikiranya mudah. Sekali coba, kemudian gagal, terus enggan melanjutkan, dikiranya berkarya langsung bisa. Jadinya, millenial selalu ingin sukses cepat-cepat dan saat harus menjalani prosesnya tidak kuat. Kita jadi sering lupa dan jarang ingat kalau setiap kesuksesan itu ada perjuangan di baliknya. Kalau mereka yang sukses juga melewati berbagai proses. Meskipun sering kali kita terpaku hanya pada yang terlihat.

Jika sudah akut, kombinasi kebanyakan khawatir dan mental instan ini akan membuat kita jadi orang yang waktunya habis untuk memikikan kekhawatiran kita dan memimpikan kesuksesan orang lain. Bilang tidak cocok menggeluti satu bidang padahal belum pernah mencoba. Takut berkarya karena khawatir dihina. Ingin jadi vlogger terkenal tapi waktunya habis nonton channel orang daripada buat vlog-nya sendiri. Mau punya banyak followers di Instagram tapi malas belajar VSCO dan buat caption. Harapannya jadi CEO dan Founder tapi ada pekerjaan ditunda-tunda. Semuanya mentok di mimpi dan niat belaka. 

Buat saya, butuh hampir sepuluh purnama untuk menyadari itu. Butuh sepuluh purnama untuk saya keluar dari berbagai kekhawatiran khas millenial, menyadari bahwa gagal mencoba itu biasa, mengakui diri ini banyak beralasan, meyakini kesuksesan harus melewati proses, dan menerima kenyataan kalau setiap orang punya jalan dan waktu suksesnya sendiri. Pada purnama kesepuluh itulah saya berjanji akan berhenti khawatir dan mulai mengerjakan mimpi saya. Karena hanya kita sendiri (dan Tuhan - jika kamu percaya) yang bisa menentukan kesuksesan kita. 

Saya percaya, gagal ketika mencoba lebih baik daripada menyesal tidak pernah mencoba. Menemukan ketidakcocokan lebih baik daripada hanya menebak-nebak dari alam pikiran. Mengerjakan dan menyelesaikan sesuatu membawa lebih pasti membawa kita pada impian daripada hanya memimpikannya. 

Semoga kamu juga begitu.

Banyak orang yang ingin jadi bagian dari hal besar,
tapi usahanya kecil.
Banyak orang yang punya cita-cita,
tapi memilih menjadikannya lamunan daripada tindakan.
Banyak orang mengharapkan kesuksesan,
tapi memilih beralasan daripada menawarkan solusi.
Jadi, masih mau jadi kebanyakan orang?

Satu Alasan untuk Khawatir

 


Ada banyak alasan di dunia ini untuk kita merasa khawatir. Masa depan adalah salah satunya. Tidak berbeda dengan kebanyakan kita, saya sering membayangkan diri saya lima atau sepuluh tahun dari sekarang. Satu waktu saya tersenyum, membayangkan apa-apa saja yang berharap bisa terwujud, dengan optimisme membumbung tinggi ke angkasa. Lain waktu saya mengernyitkan dahi, melempar pandangan kosong pada dunia, kala permasalahan merundung menutupi bayang-bayang masa depan yang saya inginkan. Sesekali, manakala saya merasa hidup tengah tidak bersahabat, penuh masalah dan tidak sesuai harapan, masa depan terasa sangat jauh lagi gelap. Optimisme pun surut berganti kegelisahan tanpa jawaban. Meninggalkan keraguan atas berbagai pertanyaan tentang masa depan.

Saya percaya bahwa kekhawatiran semacam itu sebetulnya adalah wajah lain dari ketakutan: takut tidak bisa memenuhi ekspektasi orang lain. Tepat di momen-momen menjelang saya memakai jubah hitam dan topi segi-lima, perasaan ini datang menghantui. Berkuliah di universitas yang menyandang nama negara, di jurusan yang mematahkan hati banyak calon mahasiswa, dan beberapa prestasi di dalam maupun di luar kelas, saya merasa ada beban di pundak saya. Ekspektasi dari orang-orang di sekeliling secara tidak sadar tumbuh bersama apa yang diraih. Serupa rumah, tetangga melihat halaman dan luaran, si empunya melihat isi rumah. Ketika orang-orang melihat saya dari apa-apa saja yang pernah diraih, saya sendiri lebih banyak melihat apa-apa saja yang saya rasa belum kuasai selama delapan semester ambil kuliah. Tidak heran, ujung ceritera ini adalah saya takut belum siap meninggalkan kampus, sedangkan orang-orang nampaknya tidak sabar menunggu torehan-torehan baru saya setelah menyandang gelar sarjana.

Sekali waktu, ingin rasanya bebas dari ekspektasi orang lain. Tidak melulu dikurung standar tertentu. Bebas bilang kalau saya tidak tahu atau tidak mampu. Bebas bermalas-malasan hanya agar tidak menjadi apa yang orang bayangkan. Boleh pula gagal dalam menjalani suatu hal untuk coba-coba.

Sadar atau tidak, kita sebagai makhluk sosial banyak menghabiskan hidup kita untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Tak apa. Itu disebut konformitas: mengubah sikap atau tingkah laku kita sesuai dengan norma sosial yang ada. Ada saja hal-hal seperti membawa buah-buahan untuk teman yang tengah sakit, memberi amplop berisi duit di kawinan, atau membagikan oleh-oleh sehabis bepergian jauh kita lakukan karena norma sosial mengekspektasikan kita berbuat demikian. Nah, kalau dipikir ulang, mungkin ada hal-hal lebih besar juga kita lakukan hanya karena kita melihat itu sebagai kebiasaan (norma) yang berlaku sehingga melakukannya agar sesuai ekspektasi orang-orang. Ambil contoh sekolah. Setelah lulus setiap tingkat pendidikan, terutama saat masih anak-anak, kita lanjut sekolah cenderung karena teman-teman kita juga lanjut sekolah (dan kita beruntung punya orang tua yang mampu menyekolahkan). Memilih SMA daripada SMK, memilih program sarjana daripada diploma, memilih lanjut sekolah atau langsung bekerja, memilih kerja di korporat daripada startup, memilih menikah di usia kepala dua daripada kepala tiga, apakah kita mengambil pilihan tersebut karena betul-betul paham setiap pilihan, ataukah menuruti ekspektasi teman-teman, guru, orang tua, atau pihak eksternal lainnya? Tentu saja kita berharap karena mengerti konsekuensi pilihan kita. Meskipun pada kenyataannya mungkin tidak selalu begitu.

Saya tidak berusaha mengatakan bahwa mengikuti ekspektasi lingkungan itu suatu kesalahan. Tidak juga mengatakan bahwa konformitas itu salah. Toh sejak lahir kita juga sudah menanggung ekspektasi orang tua yang tersemat pada nama kita. Ekspektasi, sebaliknya, sering kali membantu kita untuk tetap berada di jalur yang tepat. Mendorong kita berkembang menjadi versi lebih baik. Memaksa kita menembus batas-batas buatan kita sendiri. Setidaknya itu yang saya rasakan ketika kuliah. Ekspektasi lingkungan yang penuh prestasi serta penuh orang-orang ambi(sius) membuat saya menjadi saya sekarang. Tanpa ada ekspektasi demikian, bisa jadi saya tidak punya dorongan (lebih) untuk banyak-banyak bikin prestasi.

Saya cuma khawatir saya bakal memilih melakukan sesuatu yang menjadi ekspektasi orang lain daripada memilih melakukan apa-apa yang benar-benar saya inginkan. Selepas menamatkan kuliah, banyak sekali keputusan mesti diambil. Terkadang, ada dilema antara memenuhi ekspektasi orang lain dan menjalani hidup yang kita inginkan. Hidup ini memang sering kali bukan hanya tentang kita. Ada orang tua, keluarga, pasangan, sahabat, yang seakan-akan juga punya hak untuk dipertimbangkan ketika mengambil keputusan. Setelah banyak-banyak memikirkan ini, saya paham satu hal. Saya tidak takut gagal memenuhi ekspektasi mereka pada saya. Lebih dari itu, saya takut berhasil memenuhi ekspektasi mereka, kemudian sadar bahwa bukan itu yang saya inginkan.
 
Hidup kita, kita yang jalani. Orang boleh bilang kita harus hidup begini atau begitu. Orang boleh bilang hidup kita bahagia atau nelangsa. Tapi, pastikan saat kita tengok diri, ia menjadi apa yang kita kehendaki. Itu.

Jurnal Presiden #1 - Why

Menoleh ke belakang. Suatu kebiasaan yang sering sekali dilakukan manusia sebelum dia pergi atau berpisah. Bahkan, katanya, manusia akan melihat kilas balik kehidupannya sebelum meninggal dunia. 

Jangan pergi dulu! Tulisan ini tidak akan membahas hal menyeramkan semacam kematian, kok. Saya hanya akan bahas bagian menoleh ke belakangnya tadi. Sebagaimana premis saya sebelumnya, orang-orang biasanya akan menoleh ke belakang ketika mereka pergi atau berpisah dari sesuatu. Bisa tempat, pekerjaan, orang, atau mungkin masa lalu. Kalau saya, kali ini menoleh ke belakang karena akan meninggalkan posisi yang selama satu tahun melekat dalam diri saya. Presiden ISAFIS 2015.

Kata orang bijak, kita tidak boleh terlalu banyak menoleh ke belakang, dan sebaliknya harus selalu memandang ke depan. Ada benarnya memang. Terlalu banyak menoleh ke belakang memang seringkali membuat kita susah untuk move on dari sesuatu, seperti mantan misalnya. Namun, kali ini saya merasa perlu menoleh ke belakang bukan karena saya tidak siap menghadapi apa yang menanti di hadapan saya. Saya merasa perlu menoleh ke belakang untuk melihat apa saja yang telah saya lewati dan pelajaran apa saja yang saya dapatkan dari keseluruhan pengalaman tersebut. Itulah kurang lebih tujuan dari tulisan ini. 

"The only time you should ever look back, is to see how far you have come." - Anonym

Sejujurnya, cukup sulit untuk menceritakan seluruh pengalaman ini ketika saya sudah di ujung jalan. Semestinya, jurnal dibuat secara konsisten selagi kita dalam perjalanan itu sendiri. Jurnal yang dibuat secara rutin dan konsisten akan membuat cerita kita lebih rinci dengan emosi yang kuat karena baru saja dialami. Namun, seperti kata orang bijak (lagi), lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Jadi, mari kita mulai.

Mulailah dengan pertanyaan 'kenapa'. Kalau diterjemahkan dalam bahasa Inggris, kalimat tadi akan menjadi Start with Why. Sebuah judul buku yang sedang saya baca saat ini. Buku yang menjelaskan mengapa menemukan alasan kita melakukan sesuatu dan membagikan motivasi tersebut kepada orang lain dapat menggerakkan orang lain untuk bertindak sesuai harapan kita. Selain isi bukunya yang menarik, judul buku ini juga membuat saya mencoba mengingat dan memikirkan kembali alasan saya dulu ingin menjadi presiden.

Kalau dipikir kembali, saya menjadi presiden bukan karena 'apa', melainkan karena 'siapa'. Alasan saya menjadi presiden adalah seorang perempuan yang selama ini menginspirasi saya dengan semua gagasan, tindakan, dan tentu saja prestasinya. Seseorang yang saya anggap sebagai mentor pribadi tanpa pernah diminta kesediaannya. Seseorang yang setiap kali saya butuh bantuan, masukan, dan pertimbangan, selalu bersedia meluangkan waktunya. Seseorang yang setiap kali saya menceritakan masalah, selalu mau mendengarkan dan mampu menumbuhkan kembali semangat saya. Seorang perempuan yang pernah mengemban amanah yang sama dan berkontribusi besar dalam mengembangkan organisasi ini. Seorang mentor, senior, kakak, dan sahabat itu bernama Maya Susanti. Presiden ISAFIS 2012/2013.

Tidak berlebihan kalau saya mengatakan bahwa saya menjadi presiden karena Kak Maya. Saya bergabung dengan ISAFIS pada masa kepemimpinan Kak Maya. Saya mengenal Kak Maya pun lebih banyak lewat ISAFIS. Walaupun saya bukan orang yang paling rajin datang dalam kegiatan rutin, tetapi saya bisa merasakan banyaknya manfaat yang saya dapatkan sebagai anggota saat itu. Salahsatu yang paling berkesan dan membuat ingin sekali berkontribusi pada ISAFIS adalah kesempatan untuk menghadiri the 59th International Student Conference di Jepang. Pengalaman lainnya yang berkesan adalah menjadi head of social events Jakarta MUN 2013, padahal saat itu saya masih mahasiswa tingkat pertama. Selain itu, saya juga berkesempatan menjajal kemampuan saya dalam kegiatan model united nations sebagai trainer dan co-chair pada kegiatan-kegiatan ISAFIS lainnya. Berbagai pengalaman tersebut terjadi pada masa kepemimpinan Kak Maya. Karena itu, bagaimanapun, pengalaman-pengalaman itu akan merujuk pada Kak Maya.

Kalau disederhanakan, ada tiga hal sebenarnya yang paling berkesan dari masa kepemimpinan Kak Maya. Pertama, saya sebagai anggota merasa mendapatkan banyak keuntungan dengan bergabung dengan organisasi ini. Kedua, saya merasa cukup diperhatikan sebagai anggota oleh pimpinan organisasi. Ketiga, banyak prestasi yang ditorehkan oleh kepengurusan saat itu sehingga saya bangga sebagai bagian dari organisasi ini. Ketiga hal tersebut lah yang membuat saya ingin menjadi presiden. Saya ingin menjadi seperti Kak Maya yang mampu menginspirasi saya dengan cara dia memperlakukan anggota dan membuat organisasi ini jadi bermanfaat bagi anggotanya sendiri. Saya ingin orang lain mendapatkan manfaat yang saya dapatkan.

Saya ingin orang lain merasakan apa yang saya rasakan. Itu alasan utama saya ingin menjadi presiden di organisasi ini.

Apakah hanya itu alasannya? Tentu saja tidak. Ada alasan personal lain yang membuat saya ingin menjadi pimpinan tertinggi, alias ketua, alias presiden, di organisasi ini.

Entah karena terobsesi dengan kekuasaan, atau sangat menghargai kepemimpinan, sejak kecil saya selalu merasa senang setiap kali menjadi pemimpin, baik secara formal sebagai ketua organisasi, atau secara informal sebagai 'pentolan' diantara teman-teman satu tongkrongan. Misalnya, ketika saya masih bersekolah di tingkat Sekolah Dasar, saya senang menjadi Ketua Murid dan sering sekali menjadi memposisikan diri sebagai 'pentolan' sampai pernah berhasil membuat hampir seisi kelas memboikot satu orang teman saya yang dianggap tidak bisa dipercaya. Di jenjang-jenjang selanjutnya pun, saya tidak pernah menolak kesempatan untuk menjadi ketua organisasi. Misalnya, saat masih berseragam putih-biru, saya menjadi ketua organisasi rohani Islam (rohis) di sekolah. Masa putib-abu saya pun tidak jauh-jauh dari posisi ketua. Saya sempat menjadi ketua klub bisbol-sofbol sekolah dan majelis permusyawarahan kelas. Sampai saat ini pun, saya senang apabila berada atau dianggap sebagai pemimpin suatu kelompok.

Lagi-lagi masih kata orang (sok) bijak, Ayah adalah idola pertama kita, apalagi anak laki-laki. Mungkin karena itu juga sejak kecil ingin menjadi pemimpin. Karena saya selalu melihat Ayah yang menjadi ketua di mana-mana dan disegani banyak orang. Akibatnya, selain ingin menjadi pemimpin, saya juga selalu merasa punya bakat memimpin. Saking besarnya keinginan dan keyakinan saya itu, saya sering juga ikut pelatihan-pelatihan kepemimpinan. Setiap kali ada pelatihan kepemimpinan di sekolah, saya sering ikut untuk mencari tahu bagaimana caranya agar menjadi pemimpin yang baik. Karena masih sering penasaran dan merasa pelatihan kurang, saya juga rajin membaca buku-buku tentang kepemimpinan dan biografi pemimpin-pemimpin besar dunia. Dari semua itu saya sedikit-sedikit tahu tentang teori-teori kepemimpinan. Itulah yang kemudian menjadi modal saya untuk menjadi ketua di berbagai organisasi semasa sekolah dulu.

Satu masalah dari semua pengalaman organisasi saya: saya mungkin menjadi ketua yang baik, tetapi belum menjadi pemimpin yang baik.

Iya, kita tentu tahu bahwa ketua dan pemimpin bukan hal yang sama. Ketua adalah jabatan, sedangkan pemimpin adalah karakter. Seorang ketua bisa jadi tidak mampu memimpin, tetapi seorang pemimpin pasti mampu menjadi ketua.

Tugas ketua adalah memastikan bahwa pekerjaan organisasi terlaksana sesuai target yang telah ditetapkan sejak awal. Karena itu, menurut saya, selama ini saya adalah ketua yang baik. Kenapa? Karena ketua hanya perlu memastikan semua pekerjaan sesuai dengan standar yang ditentukan. Selama ini, setiap kali menjadi ketua, saya selalu berhasil menyelesaikan tanggung jawab saya. Saat menjadi ketua rohis, hampir seluruh program kerja terlaksana. Saat menjadi ketua klub, tugas pengurus terlaksana sampai akhir. Saat menjadi ketua majelis permusyawarahan kelas, pemilihan umum terlaksana juga dengan baik.

Lalu, di mana masalahnya?

Masalahnya adalah seorang pemimpin semestinya tidak hanya memastikan pekerjaan organisasi selesai. Lebih dari itu, seorang pemimpin semestinya mampu menginspirasi daripada memaksa, memerhatikan daripada memerintah, berkembang bersama daripada sendiri, mendengarkan daripada berbicara, memotivasi daripada menyuruh, dan memenuhi harapan anggota daripada targetan pribadi. Berdasarkan kriteria tersebut, saya merasa bahwa sebelumnya saya tidak mampu menjadi pemimpin dan baru mampu menjadi ketua saja. Karena itu juga saya sadar mengapa saya tidak merasa 'dicintai' anggota saya saat itu. Tentu saja karena saya lebih fokus pada pencapaian organisasi dan lupa akan pentingnya 'mengisi' diri anggota-anggota saya. Saya selalu lebih mementingkan pencapaian target daripada perkembangan anggota, lebih suka menyuruh daripada meminta pendapat, lebih suka mengancam daripada menginspirasi, dan lebih ingin didengarkan daripada mendengarkan.

Inilah alasan pribadi saya untuk menjadi presiden. Saya ingin belajar lagi menjadi pemimpin, bukan hanya ketua. Saya ingin membuat tidak hanya organisasinya yang berkembang, tetapi juga para anggotanya. Saya ingin mampu menginspirasi orang, bukan memaksa, sehingga mereka bekerja bersama saya, bukan untuk saya. Saya ingin mampu menyeimbangkan antara pemenuhan target organisasi dan kebutuhan anggota. Saya ingin menjadi pemimpin yang dicintai oleh yang dipimpinnya.

Saya harus menjadi presiden untuk mendapat kesempatan berubah dan mengubah cara saya dalam memimpin sebuah organisasi. Jabatan ini akan memaksa saya berubah dengan tanggung jawab yang tidak terpisahkan dari jabatan itu sendiri. Saya membutuhkan jabatan presiden untuk bereksperimen dan menemukan formula saya sendiri untuk menjadi pemimpin yang baik. Dengan begitu, saya bisa membuktikan, setidaknya pada diri sendiri, bahwa saya mampu memperbaiki kekurangan saya sebelumnya. Saya mampu berubah. Saya mampu menjadi pemimpin yang baik.

Ternyata, setelah dipikirkan kembali, alasan saya menjadi presiden sangat sederhana. Saya ingin orang lain merasakan apa yang saya rasakan ketika menjadi bagian dari ISAFIS, di samping sebagai bentuk terima kasih saya pada organisasi ini. Lebih personal, saya merasa ISAFIS merupakan tempat yang tepat sebagai tempat belajar dan bereksperimen untuk berubah menjadi individu yang lebih baik, dan tentu juga menjadi pemimpin yang baik.

Sok mulia atau egois, setidaknya saya memiliki alasan ketika memutuskan menjadi presiden tahun lalu.

The Amazing Asian African Parliamentary Conference

Nothing more special in Indonesia this year other than Asian African Conference Commemoration. It is a big celebration of the 60th anniversary of the conference. Everyone, every media, and every institution have an eye for this event. Preparations are started a year before in Jakarta and Bandung as main venues. As far as I know, there are two big government agendas during this commemoration: Asian African Conference and Asian African Parliamentary Conference. Thank God, I got opportunity to involve in Asian African Parliamentary Conference which gave me such priceless experiences.

Asian African Parliamentary Conference


Third Session

ISAFIS member, Audrey (young lady with batik shirt), became interpreter for Palestine Delegation 


The story began when I was informed by Bang Ical, that one of our (ISAFIS) alumni, Bang Fadli Zon, has been automatically became coordinator of Inter-Parliamentary Cooperation Body (BKSAP) as he was elected as Vice Speaker of Indonesian House of Representative. He asked BKSAP to involve student in their Asian African Parliamentary Conference. The idea was accepted and Bang Fadli Zon connected me to Bu Endah, Head of International Partnership Department, who is also in charge for the conference. After several meetings, we (ISAFIS) were requested to be Liaison Officer, part of committee who will accompany delegates and put delegates in contact with the committee. It is a hard yet challenging task. As Liaison Officer, we are front liner of the conference since we are directly deal with delegates who are member or even speaker/vice speaker of their country's parliament that have to be treated well. I myself get Delegation of Pakistan as my responsibility. The delegation consist of two member of parliament: Ms. Nighat Parveen and Mr. Tahir Bashir Cheema.

Official Committee


Welcoming Delegation

ISAFISians in Asian African Parliamentary Conference


Deadlining for my college assignment in the conference venue

Ms. Nighat - Me - Mr. Cheema

To be able to interact directly with important or even very important person is an amazing experience. During the conference, we were there, in every session of the conference, and can personally see how the real international diplomacy goes on. Beside that, we can also learn on how cultures make communication harder or conversely easier. Delegation of Pakistan for examples, has similiarities with me because they are also moslem so that we have many topics to open a conversation. The best part for me is that we can ask directly something from these delegation about their country's policy. As an International Relations student, I have written several reviews or articles regarding Pakistan and South Asia. So, I used this opportunity to confirm what is in books or journals and reality. I asked many things, including Kashmir dispute, nuclear weapon, and Pakistan - India rivality. And you know what? the one whom I asked (Mr. Cheema) is member of defense commission in the parliament that make it easy for him to answer it and the answer is always comprehensive yet simple. I was very excited to listen every answer he gave me because it is coming straight from the policy maker of Pakistan itself. I got many new insights about international issues in South Asia from Pakistan's perspective.

Before I knew it, I thought there will be a gap between Liaison Officer and delegates, since delegates are important person. But, it was actually wrong. Me and other LOs could make a good and close relation with delegates while also keep our respect, because most of them are very nice. Pakistan delegation is also the same. Ms Parveen and Mr. Cheema are very friendly. They are very cooperative with the committee so that I can easily ask them to follow every session of the conference. Because Ms. Parveen left Indonesia first, and Mr. Cheema's flight is three days after conference, I spent my time more with Mr. Cheema.

I actually want to talk more about this Mr. Cheema. After I accompanied Ms. Parveen to airport, I came back to hotel to accompany Mr. Cheema look for some souvenirs. We went to the Grand Indonesia Mall to find purse for his wife and daughters. During our shopping time, we talk many things, about Indonesian culture, families, and also politics. He doesn't like formality. That's why he told me not to be formal with him and he even treated me as his son. It was like I am his son and his interpreter in the same time. He took my advice to visit Alun-Alun Indonesia and bought a batik shirt I chose for him. I gave him a magnetic fridge as a gift.

I started to know (or adore) him more when he asked me to his room and had a conversation with him. Basically, I thought he asked me to accompany him to kill the time because he is alone. During our conversation, we talked about everything. Literally everything. Sometimes he asked me about situation in Indonesia, sometimes he told me about his family (his wife, his sons, and his daughters), sometimes he asked me to tell him more about my family (what my parents do, their backgrounds, my siblings), and sometimes I asked him random questions (mainly things that make me curious). It was a nice conversation and more like dad-son conversation rather than a delegate-LO conversation. Because of the conversation, then I know that he is now elected for the fifth time, that he was a mayor of his hometown, that he is a medical school graduate, that he first elected when he was 21 years old, and in the end somehow it gave me conclusion that he is a family man. I remember one of his advice to me is never cheat to my (future) wife. As long as there is no other woman, he said, there will be no fight in a marriage. There will be arguments, which is normal, but there will be no fight. And if there is another woman, even small things can start a fight.

In the middle of our conversation, he told me why he asked me to come to his room. He said it because he was impressed with my attitude in doing my duty as Liaison Officer. He believes that I am a good person, hardworking, and honest. I was thrilled when I heard all that compliments. I never expected to be appreciated like that. Another reason why he likes me is maybe because I am in the same age with his first son who lives in London for study and I remind him of his son. The most surprising moments during that conversation is when he is inviting me to come and visit his family in Lahore, Pakistan. He even promised me to arrange everything, including the ticket and visa for visiting Pakistan. I was very excited when he told me that. To show his serious intention, he asked me to arrange a dinner with my dad so he can directly tell the invitiation to my dad and ask for permission. Now, I cannot wait to visit Mr. Cheema and his family in Lahore. I hope I can visit him this June as he requested because it will be the time when his first son will also come home for summer vacation.

After dinner with Mr. Cheema

These experiences, working with parliament, spending times with my fellow ISAFISians, seeing international official conference, and meeting officials from all over Asia and Africa is absolutely an unforgettable moments for me. In the meantime, I learnt a lot from this event. But one thing I will never forget is to always mind our attitude, because we will never know how and when opportunity approach us.

"Zikri, I tell you one thing. Struggle until you are 30 years old. After that, enjoy your life." - Mr. Cheema


Wefie after briefing

Gala Dinner

With Delegate from Lao PDR


ISAFISians are taking picture with Mr. Fadli Zon (Vice Speaker) and Ms. Nurhayati Ali Assegaf (Chairman of BKSAP)

Two ISAFIS Presidents from different era

Di ISAFIS Kita Setara

Assalamu'alaikum Warahmatullah..

Dari banyak tempat belajar dan mengembangkan diri di dunia kampus, ada satu tempat yang telah banyak memberikan saya banyak sekali pelajaran. Diawali dari ngobrol santai dengan senior sekaligus mentor saya, Kak Maya Susanti, saya tertarik bergabung di International Student Association for International Studies (ISAFIS). Dua tahun kemudian, di sinilah saya, di posisi yang dulu Kak Maya emban. President of ISAFIS

Kontribusi pertama ISAFIS dalam hidup saya dimulai ketika saya mendapat kesempatan untuk mewakili ISAFIS ke The 59th International Student Conference di Jepang pada tahun 2013 lalu. Kalau bahasa pendiri ISAFIS, Bang Faizal Motik a.k.a Bang Ical, saya ini 'diperawani' ISAFIS. Artinya, saya keluar negeri untuk pertama kalinya berkat ISAFIS. Tahun pertama di ISAFIS, saya dapat tanggung jawab besar karena diminta menjadi Head of Social Events dari  Jakarta MUN 2013, salahsatu acara akbar ISAFIS. Setahun di bawah kepemimpinan Kak Maya, banyak sekali ilmu yang saya serap dari lingkungan orang-orang keren ini. Tahun kedua, saya belajar menjadi konseptor dari Mas Gineng Sakti. Bukan cuma namanya yang sakti, tapi juga ide dan konsepnya. Selama satu tahun, saya mendapat kesempatan untuk lagi-lagi berkontribusi lewat Jakarta MUN 2014 sebagai Director of UNESCO. Menjadi seorang director bukanlah kesempatan yang mudah didapat dan ISAFIS memberikan pengalaman itu. Bahkan, keberhasilan saya menjadi bagian dari delegasi UI untuk The European International MUN di Den Haag sekalipun ada hubungannya dengan ISAFIS. Salahsatu senior saya di ISAFIS, Kak Gea Larissa, merupakan orang yang mendukung dan membantu saya sehingga terpilih. Sekarang, di tahun ketiga saya di ISAFIS, giliran saya melanjutkan tongkat estafet dari Kak Maya dan Mas Gineng. Berkontribusi dan membalas kebaikan organisasi ini pada para penerusnya. 

Satu hal yang selalu dibanggakan dari sebuah organisasi adalah alumninya. Siapa dan sudah menjadi apa para alumni seringkali menjadi ukuran besarnya suatu organisasi. Berdasarkan hal tersebut, boleh dibilang ISAFIS merupakan organisasi yang bukan sembarang organisasi. Para pendiri dan alumni ISAFIS merupakan tokoh-tokoh yang dipandang di negeri ini. Beberapa nama, seperti Faizal Motik, Irma Hutabarat, Imam Prasodjo, Hikmahanto Juwana, Adnan Pandu Praja, dan Fadli Zon bukanlah nama yang asing di telinga kita, Mereka semua telah menjadi orang-orang penting di negeri ini dengan keahliannya di bidang masing-masing.

Para Alumni ISAFIS


Tahun ini, tepatnya tanggal 14 Februari, ISAFIS menyambut hari ulang tahunnya yang ke-31. Seperti biasa, kami diundang untuk bersilaturahmi, diskusi, dan makan-makan bersama alumni di rumah sekaligus sekretariat organisasi, Jalan Banyumas No. 2, Menteng. Ini merupakan kesempatan langka bagi kami para anggota maupun pengurus yang sedang menjabat untuk bertemu dan bertukar pikiran langsung dengan para pendiri organisasi kami. Selama acara silaturahmi kemarin, banyak sekali pelajaran dari alumni dan juga kejadian lucu yang terjadi.

ISAFIS New Members

Special Edition Mug 

Budayakan Antre

Makan Bareng Presiden Terdahulu

Setelah makan-makan lengkap dengan pencuci mulutnya, saya mewakili teman-teman pengurus mempresentasikan ISAFIS pada masa kita. Acara akbar ISAFIS, seperti Indonesia International Week dan Jakarta MUN juga dipresentasikan melalui video. Setelah itu, saya memperkenalkan Board Executive maupun Board of Director yang akan bekerja sama dengan saya selama satu tahun ini. Di penghujung presentasi, saya menawarkan alumni mug dan kaos ISAFIS yang memang telah disiapkan sebagai salahsatu strategi fundraising kita. Satu paket mug limited edition plus kaos dan goodie bag kami banderol seharga Rp150.000,00. Ketika saya sedang menawarkan merchandise tersebut, tidak disangka Bang Ical membantu kami promosi dan membuatnya jadi lelang. Harga awal tiba-tiba naik jadi Rp1.000.000,00, lalu ada lagi yang menawar Rp2.000.000,00, dan paling tinggi terjual dengan harga Rp3.000.000,00. Dari 20 buah mug yang kami siapkan, dengan hanya menjual setengahnya saja kita mendapat dana sebesar Rp10.300.000,00. Ini benar-benar di luar dugaan dan membuat saya senang sekaligus terharu karena para alumni ini begitu peduli dengan ISAFIS maupun adik-adiknya. Dana itu sangat berarti buat kami karena akan dikelola untuk kegiatan-kegiatan ISAFIS selama satu tahun ini.

Presentasi ISAFIS 2015

Cerita ISAFIS ke Alumni

Promosi Mug Edisi Spesial 31 Tahun ISAFIS

Bang Yendi - Donasi Rp2.000.000,00 

Bagian pengurus selesai, dimulailah diskusi atau sharing alumni. Pertama, Prof. Hikmahanto Juwana yang memulai diskusi. Sebagai bagian dari Tim Sembilan yang diberi tugas oleh Presiden Jokowi untuk memberi pertimbangan dalam masalah antara KPK dan Polri, Bang Gihik ini cerita tentang situasi terkini dan memaparkan bahaya korupsi. Bang Gihik cerita bagaimana beratnya terlibat dalam posisi beliau sekarang yang penuh ancaman dan bagaimana beliau juga terlibat dalam penyelesaian masalah yang sama beberapa tahun sebelumnya ketika polemik KPK dan Polri juga pernah terjadi. Lebih lanjut, Bang Gihik memperingatkan dengan tegas untuk menjaga ISAFIS dari praktik-praktik yang mengarah pada korupsi karena banyak sekali organisasi yang katanya organisasi pemuda sekalipun terlibat hal-hal semacam itu.

Bang Gihik Memulai Diskusi

Cerita Prof. Hikmahanto Juwana disambung oleh Dr. Imam Prasodjo. Bang Imam yang juga kini berada di Tim Sembilan ini lebih banyak bernostalgia dengan ISAFIS. Bang Imam cerita bagaimana awalnya ISAFIS terbentuk untuk memperluas kesempatan mahasiswa Indonesia ke luar negeri yang saat itu dimonopoli oleh KNPI sebagai organisasi di bawah kendali Presiden Soeharto. Selain itu, ISAFIS juga menjadi semacam kamuflase dengan namanya 'International Studies' agar tidak terlalu disorot intelijen apabila berdiskusi. Banyak sekali cerita menarik dan lucu dari Bang Imam tentang ISAFIS. Sepanjang cerita, berkali-kali tawa lepas alumni maupun pengurus terdengar. Bang Imam selalu bilang bahwa di ISAFIS kita belajar tetap percaya diri meskipun berhadapan dengan orang-orang yang lebih tinggi pangkatnya karena memang di ISAFIS sering sekali bertemu orang-orang penting, persis seperti saya bertemu alumni-alumni tersebut. Di ISAFIS kita semua setara.

Menurut Bang Imam, karakter alumni ISAFIS bisa dikategorikan secara umum ke dalam tiga kategori. Pertama, socio-political advocation yang fokus kepada penyelesaian masalah sosial dan politik lewat melalui advokasi. Misalnya, Prof. Hikmahanto, Adnan Pandu Praja, dan Irma Hutabarat. Hanya, menurut Bang Imam, anak ISAFIS bukan tipe yang turun ke jalan dalam caranya memperjuangkan suatu gagasan. Anak ISAFIS itu caranya harus elegan, menyampaikan gagasan dan berdebat secara santun dalam seminar atau forum lainnya. Kedua, social service provider yang berusaha menyelesaikan masalah dengan menyediakan berbagai fasilitas untuk orang yang membutuhkan. Orang-orang dalam kategori ini tidak mencari keuntungan tapi benar-benar berusaha memberikan sesuatu untuk masyarakat. Alumni yang seperti ini, contohnya Geisz Chalifah dan Irma Hutabarat yang banyak membantu orang-orang 'gak punya'. Ketiga, social entrepreneur yang berusaha menyelesaikan permasalahan sosial dengan menciptakan peluang kerja bagi banyak orang. Menurut Bang Imam, sekarang ini dibutuhkan banyak orang dengan karakter seperti ini. Karena tanpa jiwa entrepreneurship, ISAFIS tidak akan bisa berjalan jauh. Bang Ical dan Bang Harry Samputra merupakan contoh terdekat bagaimana alumni ISAFIS memiliki jiwa entrepreneurship. Bang Imam menutup ceritanya dengan nasehat agar anak-anak ISAFIS memiliki enam karakter yang sangat penting untuk memperbaiki bangsa, yaitu honesty, responsibility, fairness, rationality, courage, dan tolerance.

Bang Imam Sedang Nostalgia ISAFIS

Orang terakhir yang cerita tentang ISAFIS adalah Inang Irma Hutabarat, begitu beliau minta dipanggil. Pendiri Indonesia Corruption Watch (ICW) ini cerita mengenai upaya kriminalisasi KPK yang tengah terjadi. Inang Irma cerita bagaiman dirinya terlibat dalam perumusan undang-undang dan pendirian lembaga negara bernama KPK. Melalui ceritanya, Inang Irma berharap anak-anak muda tidak lupa sejarah bangsanya sendiri. Menurut Inang Irma, sejak awal KPK dibentuk untuk 'menghajar' institusi kepolisian dan kejaksaan yang pada masa Orde Baru begitu korup. Karenanya, wajar jika KPK akan selalu mendapat serangan dari pihak-pihak tersebut. Hal yang sama juga terjadi di Hongkong ketika pemberantasan korupsi dilakukan di sana. Inang Irma juga berpesan untuk menjaga ISAFIS dan anggotanya agar jauh-jauh dari korupsi karena korupsi itu bagai kanker yang menggerogoti hidup suatu negara.

Inang Irma Mengingatkan Proses Lahirnya KPK

Kalau sudah diskusi di rumah Bang Ical itu waktu tidak terasa. Tahu-tahu larut malam seperti juga kemarin. Diskusi panjang lebar akhirnya diakhiri dengan berdoa bersama dan tiup lilin sebagai acara simbolis. Doa yang panjang dan mengharukan dipimpin oleh Bang Ical dan kemudian bersama Bang Imam, Inang Irma, dan Bang Ical, saya meniup kue ulang tahun ISAFIS.

Berdoa Untuk Kebahagiaan dan Keselamatan Keluarga Besar ISAFIS

Tiup Lilin Bareng Para Pendiri
Imam Prasodjo - Irma Hutabarat - Faizal Motik - Ilman Dzikri

Acara kemarin buat saya sangat membahagiakan sekaligus mengharukan. Semoga teman-teman pengurus tahun ini bisa berkembang bersama di ISAFIS dan juga bisa mencintai organisasi ini sebagaimana alumni dan juga saya mencintainya.

Selamat Ulang Tahun ke-31 ISAFIS! Jaya Selalu!

Presiden Lintas Generasi
Ilman Dzikri (2015) - Faizal Motik (1984)

Foto Bersama Bang Imam

Foto Bersama Bang Ical, Inang Irma, dan Bang Gihik

Foto Sama Bang Geisz Chalifah


Ketemu Bang Adnan Pandu Praja Setelah Acara Selesai.
Alhamdulillah bisa ngasih dukungan langsung ke Bang Pandu dan KPK tanpa harus turun ke jalan.


Menjadi Jajaka Selagi Masih Perjaka

Assalamu'alaikum Warahmatullah..

Setiap perjaka belum tentu bisa jadi jajaka. Itu adalah kata-kata yang baru saja saya ciptakan untuk memulai tulisan ini. Istilah jajaka sendiri merupakan bahasa Sunda yang berarti pemuda. Tetapi, jajaka yang saya maksud adalah sebutan bagi Duta Pariwisata Kota Bandung. Setiap tahun, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung menyelenggarakan Pasanggiri Mojang Jajaka (Moka) Kota Bandung, sebuah kompetisi berbau beauty pageant yang tujuannya mencari muda mudi berpotensi untuk menjadi duta wisata kotanya. Teman-teman mungkin akrab dengan kompetisi serupa di Jakarta yang disebut Abang None. Nah, kalau yang saya ikuti ini adalah versi Bandung.


Kegilaan ini, untuk ikut kompetisi berbau beauty pageant, sebenarnya bermula dari keisengan tidak bertanggung jawab. Secara pribadi, saya bisa dibilang sangat bangga menjadi orang Sunda dan warga Bandung. Kebanggaan inilah yang mendorong saya untuk beraksi, bukan membasmi kejahatan, melainkan ingin mempromosikan baik kebudayaan maupun kota yang saya cintai. Pilihan saya untuk menyalurkan kebanggan itu lewat Mojang Jajaka Kota Bandung sendiri sangat dipengaruhi oleh lingkungan saya, terutama di tempat kuliah. Di jurusan tempat saya menimba seember ilmu, HI UI, banyak sekali senior ataupun alumni yang juga berprestasi di ajang beauty pagent. Ada yang di tingkat daerah, provinsi, bahkan nasional. Misalnya saja, Kak Maya Susanti yang menjadi Putri Pariwisata Sumatera Selatan 2012, Kak Nadhira Titalia yang menjadi Top Ten Miss Indonesia 2013, dan ada juga Haekal Muda Ralial, teman seangkatan yang merupakan Top Ten Raka Raki Jawa Timur 2013. Itu beberapa contoh aja karena sebenarnya banyak yang lainnya, terutama di ajang Abang None Jakarta dan Abang Mpok Depok. Jujur, karena merekalah saya tertarik ikut ajang serupa di kota kelahiran saya. 

Niatan ikut Mojang Jajaka itu sebenarnya sudah ada sejak tahun lalu. Tapi sayang sekali, tahun lalu itu acaranya bentrok sama rencana saya ikut konferensi di Jepang. Akhirnya, niat itu ditunda sementara. Barulah awal September, tidak lama setelah pulang dari Eropa, saya iseng-iseng liat timeline twitter untuk cari info tentang Mojang Jajaka 2014. Ternyata, waktu pendaftaran hanya tersisa beberapa hari saja sejak saya tau infonya. Karena syaratnya mudah, saya yang lagi di Depok minta tolong adik untuk mendaftarkan saya dalam kompetisi ini. Sebuah keputusan impulsif yang bisa jadi gak jauh beda kayak orang kesambet. 

Masuklah saya ke babak penyisihan. Tempatnya di Padepokan Seni Mayang Sunda, di Bandung. Tahap ini adalah tahap di mana pesertanya banyak ditanya-tanya sama dewan juri. Anehnya, kita semua yang daftar pada jawab aja tuh pertanyaannya. Gak ada yang neriakin juri sambil bilang, "Kepo, lu!". Oh iya, sebelum interview, ada babak tes tertulis dulu yang susah banget. Pertanyaannya lebih mirip trivia, soalnya pertanyaannya seputar Kota Bandung yang belum tentu semua orang tau. Setelah seharian di sana, agak kaget juga karena akhirnya saya menjadi satu diantara 24 finalis Mojang Jajaka Kota Bandung 2014. Setelah terpilih itu, perasaan saya lebih ke arah dilema daripada senang. Kenapa? Jelas karena saya harus bolak-balik Depok-Bandung untuk ikut rangkaian acaranya. Berarti, bakal ada banyak hal yang harus dikorbankan selama kompetisi. Pernah terpikir untuk mengundurkan diri, tetapi setelah curhat sama Yang Mulia Kanjeng Bunda dan juga mempelajari jadwal kegiatan pra-karantina, saya memilih bertanggung jawab atas keisengan saya daftar kompetisi ini. 

Mojang Jajaka (Moka) Kota Bandung punya pra-karantina selama sebulan sebelum karantina dan malam final. Kegiatannya pada intinya adalah persiapan dan pembekalan para finalis agar kelak menjadi duta wisata yang benar-benar kenal kebudayaan dan kotanya sendiri. Sebelum pra-karantina, kita ada sesi pemotretan untuk keperluan publikasi, kerjasama, dan dokumentasi malam final. Buat saya, ini tuh asing banget. Meskipun punya tampang yang (katanya) di atas rata-rata, saya bukan orang yang pede di depan kamera. Apalagi fotografernya itu semuanya profesional. Untunglah berkat arahan semua yang terlibat, saya gak nangis selama proses pemotretan. Selain pembekalan, hal yang seru dari pra-karantina itu ada banyak kegiatan bareng komunitas-komunitas. Ada acara belajar pakai iket kepala khas orang Sunda, jalan-jalan di Bandung bareng Komunitas Aleut, ngobrol Indonesian Pageant, sampai berinteraksi langsung dengan komunitas seni di Saung Angklung Mang Udjo. Tapi, dari semua kegiatan pra-karantina, latihan koreografi untuk malam final adalah favorit saya. Soalnya bakat gak bisa diam saya bisa tersalurkan lewat gerakan-gerakan yang seru gitu. Apalagi pelatih koreonya, biasa dipanggil Kang Cilok, lucu dan seru banget orangnya. Beliau ini ternyata tim penari Indonesia waktu penutupan Asian Games 2014 di Korea Selatan. Sampai akhirnya selesai, saya tetap gak percaya kalau saya bisa juga menari secara kolosal. Terima kasih pada Mahaguru Kang Cilok.





Gimana foto-foto publikasinya? Kalau kurang kayak model mohon dimaklumi, soalnya memang bukan. Nah, setelah hampir setiap akhir pekan bolak-balik, ada satu penjurian yang bikin deg-degan setengah hidup. Namanya 'Unjuk Kabisa' alias pertunjukkan bakat. Setiap finalis wajib menampilkan pertunjukkan yang untuk memperlihatkan bakatnya dengan waktu masing-masing maksimal 3 menit. Masalahnya di sini adalah kebanyakan finalis itu pada punya bakat-bakat yang luar biasa. Ada yang bisa menari Jaipong atau jenis lainnya, ada yang bisa pencak silat, ada yang suaranya bagus buat nyanyi, pokoknya jago-jago deh. Begitu liat cermin, langsung aja minder. Soalnya kalau masalah kesenian, saya tuh kurang banget. Setelah saya pikir, ini jadi tantangan yang seru juga untuk mencoba hal baru. Karena saya ingat kata-kata seseorang untuk fokus pada kekuatan, bukan kelemahan diri, saya yang (mungkin) punya bakat public speaking memutuskan untuk mencoba story telling (mendongeng) cerita Si Kabayan yang merupakan tokoh jenaka dari Tatar Pasundan. Saya sendiri sebenarnya gak pernah mendongeng. Untungnya saya punya teman di Tangerang yang bisa dibilang menguasai bidang ini. Akhirnya, saya minta diajarin sama teman semasa putih-abu, Alia Rizka. Saking jagonya, Alia ini pernah menang lomba tingkat Asia. Hanya dalam beberapa jam saja, Alia berhasil menurunkan dasar-dasar penting dalam mendongeng yang jadi modal sangat besar untuk saya. Satu hal yang kata Alia penting dari mendongeng, yaitu ekspresinya. Lagi-lagi, saya yang muka dan suaranya datar banget ini harus berusaha mengalahkan diri sendiri. Bermodalkan tekad, akhirnya bisa juga tuh saya mendongeng di depan banyak orang yang sampai ratusan itu. Meskipun bukan penampilan terbaik malam itu, kebanggaan tersendiri buat saya karena berhasil memaksa diri mengasah kemampuan public speaking yang belum pernah saya lakukan. Selain itu juga, ada penjurian catwalk yang sama sulitnya buat saya karena saya gak pernah ikut kegiatan modelling.


Hanya bermodalkan kostum dan microphone untuk tampil mendongeng

Satu bulan tidak terasa berlalu, akhirnya finalis harus masuk karantina. Saat itu, karantina memang sedang menjadi tren, terutama di Afrika karena penyebaran virus Ebola yang mematikan. Untunglah di karantina Mojang Jajaka semuanya sehat. Pada tahap ini, penjurian utama dilakukan. Ada penjurian presentasi individu, closed interview, dan presentasi proyek angkatan. Penjurian paling susah itu buat saya saat closed interview. Mainnya keroyokan sih. Setiap finalis harus duduk di depan 5 orang juri dan menjawab semua pertanyaan. Tesnya bisa dibilang gak cuma pengetahuan dan wawasan, tetapi juga mental. Banyak pertanyaan yang seharusnya bisa saya jawab tapi akhirnya lupa karena tiba-tiba blank saat ditanya. Hal yang berkesan dari karantina adalah interaksi bersama seluruh finalis lainnya selama 5 hari bersama. Apalagi sehari sebelum malam final, kita menjamu teman-teman duta wisata dari berbagai daerah untuk makan malam dan menikmati pertunjukan angklung di Saung Angklung Mang Udjo. Bisa dibilang itu adalah tugas pertama kita sebagai duta wisata.

Semua yang telah dipersiapkan pada akhirnya berujung di malam final. Acara grand final Pasanggiri Mojang Jajaka merupakan pengumuman hasil kompetisi setelah seluruh penjurian selesai. Selain penampilan koreografi dari para finalis, ada juga sesi fashion show, dan pertanyaan di atas panggung. Pertama-tama, setelah seluruh finalis ditampilkan, diumumkan Top Five Mojang dan Jajaka yang akan diberi pertanyaan oleh dewan juri. Saat pengumuman, saya termasuk yang deg-degan. Wajar lah, saya udah mengorbankan banyak hal, termasuk satu ujian (yang kemudian diberi izin susulan) untuk kompetisi ini. Begitu nama saya disebut, meskipun kepengen banget, muka tetap cool. Di sesi pertanyaan, saya lumayan grogi dan walaupun pertanyaan bisa dijawab dalam bahasa Inggris, rasanya kurang aja. Sesi terakhir di malam final adalah sesi penobatan. Dari lima besar, hanya akan ada tiga gelar utama, yaitu Mojang/Jajaka Wakil II, Mojang/Jajaka Wakil I, dan Mojang/Jajaka Pinilih. Sejujurnya, target saya hanyalah maksimal menjadi Jajaka Wakil I. Saya sadar bahwa kondisi saya yang berkuliah di luar Bandung akan menyulitkan saya dan juga paguyuban jika ada tugas-tugas duta wisata. Begitu pembawa acara mengumumkan Jajaka Wakil II, ternyata nama saya yang dipanggil. Saat itu juga, saya merasa lega karena saya yakin hasil tersebut adalah yang terbaik. Malam itu jadi perayaan sendiri buat saya.

Koreografi Finalis Malam Final Mojang Jajaka Kota Bandung 2014

Fashion Show

Pasangan Mojang Jajaka 

5 Besar Mojang Kota Bandung 2014

5 Besar Jajaka Kota Bandung 2014

Penobatan Mojang Jajaka Kota Bandung 2014

Mojang dan Jajaka Wakil II Kota Bandung 2014

Keluarga Besar 

Korps Pendukung

Korps Pendukung

Teman-teman yang sudah lama tak jumpa

Selfie bareng teman-teman dari SBM ITB

Pengalaman mengikuti Pasanggiri Mojang Jajaka dan kemudian terpilih sebagai Jajaka Wakil II Kota Bandung merupakan suatu hal yang luar biasa. Meskipun lelahnya luar biasa karena harus bolak-balik ke Bandung, setiap canda tawa kita, para finalis, di setiap rangkaian acara menjadi hiburan tersendiri bagi saya. Latihan koreografi, shalat bareng, makan bareng, menginap bareng, semua itu akan menjadi hal yang dirindukan oleh kita semua. Selama kompetisi, saya juga merasakan dukungan luar biasa dari teman-teman, senior, dan tentunya keluarga besar. Hal berharga yang saya dapatkan dari Mojang Jajaka bukanlah gelar, piala, atau hadiah. Lebih besar dari itu semua, saya dapat keluarga baru dari paguyuban, koneksi-konesksi baru, pengalaman baru, dan kompetisi ini telah banyak berhasil memaksa saya keluar dari zona aman saya. Itu yang berharga. 


Paguyuban Mojang Jajaka Kota Bandung

Kompetisi memang sudah selesai, namun tugas sebagai duta wisata baru saja dimulai. Bagi teman-teman yang memang mencintai kota dan daerahnya, duta wisata mungkin bisa jadi saluran bagi teman-teman untuk berkontribusi pada kota dan daerah kalian. Buat yang lain, mungkin bisa juga jadi duta wisata sebelum jadi duta besar kayak saya. Amin. 

Dapet Gelar Jajaka Terbaik dari pasangan sebenarnya