Menjadi Jajaka Selagi Masih Perjaka

05:07 0 Comments

Assalamu'alaikum Warahmatullah..

Setiap perjaka belum tentu bisa jadi jajaka. Itu adalah kata-kata yang baru saja saya ciptakan untuk memulai tulisan ini. Istilah jajaka sendiri merupakan bahasa Sunda yang berarti pemuda. Tetapi, jajaka yang saya maksud adalah sebutan bagi Duta Pariwisata Kota Bandung. Setiap tahun, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung menyelenggarakan Pasanggiri Mojang Jajaka (Moka) Kota Bandung, sebuah kompetisi berbau beauty pageant yang tujuannya mencari muda mudi berpotensi untuk menjadi duta wisata kotanya. Teman-teman mungkin akrab dengan kompetisi serupa di Jakarta yang disebut Abang None. Nah, kalau yang saya ikuti ini adalah versi Bandung.


Kegilaan ini, untuk ikut kompetisi berbau beauty pageant, sebenarnya bermula dari keisengan tidak bertanggung jawab. Secara pribadi, saya bisa dibilang sangat bangga menjadi orang Sunda dan warga Bandung. Kebanggaan inilah yang mendorong saya untuk beraksi, bukan membasmi kejahatan, melainkan ingin mempromosikan baik kebudayaan maupun kota yang saya cintai. Pilihan saya untuk menyalurkan kebanggan itu lewat Mojang Jajaka Kota Bandung sendiri sangat dipengaruhi oleh lingkungan saya, terutama di tempat kuliah. Di jurusan tempat saya menimba seember ilmu, HI UI, banyak sekali senior ataupun alumni yang juga berprestasi di ajang beauty pagent. Ada yang di tingkat daerah, provinsi, bahkan nasional. Misalnya saja, Kak Maya Susanti yang menjadi Putri Pariwisata Sumatera Selatan 2012, Kak Nadhira Titalia yang menjadi Top Ten Miss Indonesia 2013, dan ada juga Haekal Muda Ralial, teman seangkatan yang merupakan Top Ten Raka Raki Jawa Timur 2013. Itu beberapa contoh aja karena sebenarnya banyak yang lainnya, terutama di ajang Abang None Jakarta dan Abang Mpok Depok. Jujur, karena merekalah saya tertarik ikut ajang serupa di kota kelahiran saya. 

Niatan ikut Mojang Jajaka itu sebenarnya sudah ada sejak tahun lalu. Tapi sayang sekali, tahun lalu itu acaranya bentrok sama rencana saya ikut konferensi di Jepang. Akhirnya, niat itu ditunda sementara. Barulah awal September, tidak lama setelah pulang dari Eropa, saya iseng-iseng liat timeline twitter untuk cari info tentang Mojang Jajaka 2014. Ternyata, waktu pendaftaran hanya tersisa beberapa hari saja sejak saya tau infonya. Karena syaratnya mudah, saya yang lagi di Depok minta tolong adik untuk mendaftarkan saya dalam kompetisi ini. Sebuah keputusan impulsif yang bisa jadi gak jauh beda kayak orang kesambet. 

Masuklah saya ke babak penyisihan. Tempatnya di Padepokan Seni Mayang Sunda, di Bandung. Tahap ini adalah tahap di mana pesertanya banyak ditanya-tanya sama dewan juri. Anehnya, kita semua yang daftar pada jawab aja tuh pertanyaannya. Gak ada yang neriakin juri sambil bilang, "Kepo, lu!". Oh iya, sebelum interview, ada babak tes tertulis dulu yang susah banget. Pertanyaannya lebih mirip trivia, soalnya pertanyaannya seputar Kota Bandung yang belum tentu semua orang tau. Setelah seharian di sana, agak kaget juga karena akhirnya saya menjadi satu diantara 24 finalis Mojang Jajaka Kota Bandung 2014. Setelah terpilih itu, perasaan saya lebih ke arah dilema daripada senang. Kenapa? Jelas karena saya harus bolak-balik Depok-Bandung untuk ikut rangkaian acaranya. Berarti, bakal ada banyak hal yang harus dikorbankan selama kompetisi. Pernah terpikir untuk mengundurkan diri, tetapi setelah curhat sama Yang Mulia Kanjeng Bunda dan juga mempelajari jadwal kegiatan pra-karantina, saya memilih bertanggung jawab atas keisengan saya daftar kompetisi ini. 

Mojang Jajaka (Moka) Kota Bandung punya pra-karantina selama sebulan sebelum karantina dan malam final. Kegiatannya pada intinya adalah persiapan dan pembekalan para finalis agar kelak menjadi duta wisata yang benar-benar kenal kebudayaan dan kotanya sendiri. Sebelum pra-karantina, kita ada sesi pemotretan untuk keperluan publikasi, kerjasama, dan dokumentasi malam final. Buat saya, ini tuh asing banget. Meskipun punya tampang yang (katanya) di atas rata-rata, saya bukan orang yang pede di depan kamera. Apalagi fotografernya itu semuanya profesional. Untunglah berkat arahan semua yang terlibat, saya gak nangis selama proses pemotretan. Selain pembekalan, hal yang seru dari pra-karantina itu ada banyak kegiatan bareng komunitas-komunitas. Ada acara belajar pakai iket kepala khas orang Sunda, jalan-jalan di Bandung bareng Komunitas Aleut, ngobrol Indonesian Pageant, sampai berinteraksi langsung dengan komunitas seni di Saung Angklung Mang Udjo. Tapi, dari semua kegiatan pra-karantina, latihan koreografi untuk malam final adalah favorit saya. Soalnya bakat gak bisa diam saya bisa tersalurkan lewat gerakan-gerakan yang seru gitu. Apalagi pelatih koreonya, biasa dipanggil Kang Cilok, lucu dan seru banget orangnya. Beliau ini ternyata tim penari Indonesia waktu penutupan Asian Games 2014 di Korea Selatan. Sampai akhirnya selesai, saya tetap gak percaya kalau saya bisa juga menari secara kolosal. Terima kasih pada Mahaguru Kang Cilok.





Gimana foto-foto publikasinya? Kalau kurang kayak model mohon dimaklumi, soalnya memang bukan. Nah, setelah hampir setiap akhir pekan bolak-balik, ada satu penjurian yang bikin deg-degan setengah hidup. Namanya 'Unjuk Kabisa' alias pertunjukkan bakat. Setiap finalis wajib menampilkan pertunjukkan yang untuk memperlihatkan bakatnya dengan waktu masing-masing maksimal 3 menit. Masalahnya di sini adalah kebanyakan finalis itu pada punya bakat-bakat yang luar biasa. Ada yang bisa menari Jaipong atau jenis lainnya, ada yang bisa pencak silat, ada yang suaranya bagus buat nyanyi, pokoknya jago-jago deh. Begitu liat cermin, langsung aja minder. Soalnya kalau masalah kesenian, saya tuh kurang banget. Setelah saya pikir, ini jadi tantangan yang seru juga untuk mencoba hal baru. Karena saya ingat kata-kata seseorang untuk fokus pada kekuatan, bukan kelemahan diri, saya yang (mungkin) punya bakat public speaking memutuskan untuk mencoba story telling (mendongeng) cerita Si Kabayan yang merupakan tokoh jenaka dari Tatar Pasundan. Saya sendiri sebenarnya gak pernah mendongeng. Untungnya saya punya teman di Tangerang yang bisa dibilang menguasai bidang ini. Akhirnya, saya minta diajarin sama teman semasa putih-abu, Alia Rizka. Saking jagonya, Alia ini pernah menang lomba tingkat Asia. Hanya dalam beberapa jam saja, Alia berhasil menurunkan dasar-dasar penting dalam mendongeng yang jadi modal sangat besar untuk saya. Satu hal yang kata Alia penting dari mendongeng, yaitu ekspresinya. Lagi-lagi, saya yang muka dan suaranya datar banget ini harus berusaha mengalahkan diri sendiri. Bermodalkan tekad, akhirnya bisa juga tuh saya mendongeng di depan banyak orang yang sampai ratusan itu. Meskipun bukan penampilan terbaik malam itu, kebanggaan tersendiri buat saya karena berhasil memaksa diri mengasah kemampuan public speaking yang belum pernah saya lakukan. Selain itu juga, ada penjurian catwalk yang sama sulitnya buat saya karena saya gak pernah ikut kegiatan modelling.


Hanya bermodalkan kostum dan microphone untuk tampil mendongeng

Satu bulan tidak terasa berlalu, akhirnya finalis harus masuk karantina. Saat itu, karantina memang sedang menjadi tren, terutama di Afrika karena penyebaran virus Ebola yang mematikan. Untunglah di karantina Mojang Jajaka semuanya sehat. Pada tahap ini, penjurian utama dilakukan. Ada penjurian presentasi individu, closed interview, dan presentasi proyek angkatan. Penjurian paling susah itu buat saya saat closed interview. Mainnya keroyokan sih. Setiap finalis harus duduk di depan 5 orang juri dan menjawab semua pertanyaan. Tesnya bisa dibilang gak cuma pengetahuan dan wawasan, tetapi juga mental. Banyak pertanyaan yang seharusnya bisa saya jawab tapi akhirnya lupa karena tiba-tiba blank saat ditanya. Hal yang berkesan dari karantina adalah interaksi bersama seluruh finalis lainnya selama 5 hari bersama. Apalagi sehari sebelum malam final, kita menjamu teman-teman duta wisata dari berbagai daerah untuk makan malam dan menikmati pertunjukan angklung di Saung Angklung Mang Udjo. Bisa dibilang itu adalah tugas pertama kita sebagai duta wisata.

Semua yang telah dipersiapkan pada akhirnya berujung di malam final. Acara grand final Pasanggiri Mojang Jajaka merupakan pengumuman hasil kompetisi setelah seluruh penjurian selesai. Selain penampilan koreografi dari para finalis, ada juga sesi fashion show, dan pertanyaan di atas panggung. Pertama-tama, setelah seluruh finalis ditampilkan, diumumkan Top Five Mojang dan Jajaka yang akan diberi pertanyaan oleh dewan juri. Saat pengumuman, saya termasuk yang deg-degan. Wajar lah, saya udah mengorbankan banyak hal, termasuk satu ujian (yang kemudian diberi izin susulan) untuk kompetisi ini. Begitu nama saya disebut, meskipun kepengen banget, muka tetap cool. Di sesi pertanyaan, saya lumayan grogi dan walaupun pertanyaan bisa dijawab dalam bahasa Inggris, rasanya kurang aja. Sesi terakhir di malam final adalah sesi penobatan. Dari lima besar, hanya akan ada tiga gelar utama, yaitu Mojang/Jajaka Wakil II, Mojang/Jajaka Wakil I, dan Mojang/Jajaka Pinilih. Sejujurnya, target saya hanyalah maksimal menjadi Jajaka Wakil I. Saya sadar bahwa kondisi saya yang berkuliah di luar Bandung akan menyulitkan saya dan juga paguyuban jika ada tugas-tugas duta wisata. Begitu pembawa acara mengumumkan Jajaka Wakil II, ternyata nama saya yang dipanggil. Saat itu juga, saya merasa lega karena saya yakin hasil tersebut adalah yang terbaik. Malam itu jadi perayaan sendiri buat saya.

Koreografi Finalis Malam Final Mojang Jajaka Kota Bandung 2014

Fashion Show

Pasangan Mojang Jajaka 

5 Besar Mojang Kota Bandung 2014

5 Besar Jajaka Kota Bandung 2014

Penobatan Mojang Jajaka Kota Bandung 2014

Mojang dan Jajaka Wakil II Kota Bandung 2014

Keluarga Besar 

Korps Pendukung

Korps Pendukung

Teman-teman yang sudah lama tak jumpa

Selfie bareng teman-teman dari SBM ITB

Pengalaman mengikuti Pasanggiri Mojang Jajaka dan kemudian terpilih sebagai Jajaka Wakil II Kota Bandung merupakan suatu hal yang luar biasa. Meskipun lelahnya luar biasa karena harus bolak-balik ke Bandung, setiap canda tawa kita, para finalis, di setiap rangkaian acara menjadi hiburan tersendiri bagi saya. Latihan koreografi, shalat bareng, makan bareng, menginap bareng, semua itu akan menjadi hal yang dirindukan oleh kita semua. Selama kompetisi, saya juga merasakan dukungan luar biasa dari teman-teman, senior, dan tentunya keluarga besar. Hal berharga yang saya dapatkan dari Mojang Jajaka bukanlah gelar, piala, atau hadiah. Lebih besar dari itu semua, saya dapat keluarga baru dari paguyuban, koneksi-konesksi baru, pengalaman baru, dan kompetisi ini telah banyak berhasil memaksa saya keluar dari zona aman saya. Itu yang berharga. 


Paguyuban Mojang Jajaka Kota Bandung

Kompetisi memang sudah selesai, namun tugas sebagai duta wisata baru saja dimulai. Bagi teman-teman yang memang mencintai kota dan daerahnya, duta wisata mungkin bisa jadi saluran bagi teman-teman untuk berkontribusi pada kota dan daerah kalian. Buat yang lain, mungkin bisa juga jadi duta wisata sebelum jadi duta besar kayak saya. Amin. 

Dapet Gelar Jajaka Terbaik dari pasangan sebenarnya

Unknown

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

0 komentar: